Minggu, Agustus 1, 2021
BerandaAcehKemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi Telah Mempengaruhi Aspek Kehidupan Beragama

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi Telah Mempengaruhi Aspek Kehidupan Beragama

BIREUENrealitasonline.id | Era reformasi di negeri kita yang ditopang kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mempengaruhi aspek kehidupan, tak kecuali aspek kehidupan beragama.

Hal itu ditegaskan khatib salat Idul Adha 1442 H di Masjid Taqwa Muhammadiyah Bireuen, Dr. H. Hasan Basri Ahmad, MA, Selasa (20/7/2021)

Di hadapan ribuan warga Bireuen yang melaksanakan salat Hari Raya Idul Adha 1442 H di Halaman Masjid Taqwa Muhammadiyah Bireuen, di Jalan Putroe Bungsu, Desa Geulanggang Baroe, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, khatib Ustaz Hasan Basri Ahmad dalam khutbahnya menguraikan tentang pengaruh dari era reformasi.

Kata dia, dalam konteks Islam kebebasan penafsiran ajaran beragama hampir menembus batas batas sakral yang di masa sebelumnya dipedomani dan dijunjung tinggi.

Sebut khatib dari Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh itu, pengaruh dari kemajuan teknologi informasi telah melahirkan berbagai aliran dan paham yang bervariasi dalam Islam.

Paham yang menjurus pada penyimpangan dan perusakan, sebut khatib Ustaz Hasan Basri Ahmad, berdasarkan catatan “Aliansi Umat Islam” yang disingkat “Alumni” dari tahun 1980- an sampai 2006 di Indonesia mencapai 250 kelompok.

“Ini menjadi tantangan bagi umat Islam yang selama ini memegang teguh prinsip prinsip Islam seperti diajarkan Rasulullah berdasarkan sumbernya Alquran dan sunnah. Namun setelah wafat Rasulullah seperti dicatat dalam sejarah tampil nabi nabi palsu yang mengatasnamakan umat Islam”, sebutnya.

Baca Juga:   Lima Unit Rumah Warga di Setia Abdya Terbakar

Modus nabi nabi palsu itu, sebut khatib Hasan Basri Ahmad masih berlanjut sampai sekarang di kalangan komunitas Islam.

“Mereka yang berani menciptakan ajaran baru dalam Islam. Menandingi nabi. Melampaui nabi. Dahsyat. Di Aceh banyak. Saya sudah kelilingi Indonesia. Paling banyak ajaran baru yang sok hebat. Melebihi nabi dan berani membawa dalam salat. Di Aceh dua tiga tahun lalu ada sepuluh aliran sesat. Sekarang sudah lebih lagi, paling kurang ada 17 aliran sesat”, ungkap Ustad Hasan Basri Ahmad.

Baca Juga:   Dihadang Emak - emak, Kapolres Lhokseumawe Bantu Bawa Penderita Tumor ke RS Arun

Dia juga menjelaskan tentang basic aliran sesat itu tersebar di mana mana. Bahkan sebut Ustaz Hasan Basri Ahmad ada yang menyusup di kalangan kampus. Fenomena nabi palsu itu disebutkan khatib itu semakin parah dengan upaya penggalangan pengikut sebanyak banyaknya.

“Menyikapi fenomena ini maka sudah saatnya kaum muslimin menumbuhkembangkan kearifan sosial, yaitu membangun masyarakat madani yang handal,” pesan Hasan Basri Ahmad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER

BERITA TERBARU