Aek Sigeaon Tarutung Inginkan Sentuhan BWS Sumatera II

0

Catatan: Marudut Nainggolan

Sigeaon sebuah sungai membentang , mengalir ditengah kota Tarutung ibu kota kabupaten Tapanuli Utara. 

Seingat penulis, sungai ini berfungsi menjadi sumber air bagi sebagian areal pertanian masyarakat diwilayah Tarutung sekitar.

Selain itu, endapan pasir di sepanjang alur sungai mulai dari hulu hingga hilir lahan terbuka bagi penambang  tradisional termasuk warga yang membutuhkan untuk pembangunan rumah tempat tinggal. 

Tak dipungkiri beberapa tahun terakhir, endapan pasir setinggi 3 sampai 4 meter didasar sungai mulai dari Sipoholon-Tarutung, tersedot habis oleh penampang menggunakan mesin penyedot. 

Maraknya penggali pasir memakai mesin pengisap menindas penambang tradisional. Efek lain didera penambang tradisional ,mereka kesulitan mendapatkan pasir berkualitas. 

“betul amang, kualitas pasir hasil tambang tradisional tak sebaik yang lalu-lalu, selain kualitas menurun ,dasar sungai jauh dibawah badan jalan, sulit kita mendapatkan pasir “,ujar ibu mengaku boru Pasaribu,seorang penambang  tradisional di pinggiran sungai Sigeaon jalan Rakkea Sipapagan ketika berbincang dengan Realitasonline. 

Parahnya lagi, dampak dari mesin penyedot mampu merusak ekosistem. Terpantau keasrian sungai, seperti halnya di wilayah Sipoholon sebagian badan sungai berpindah lokasi.  

Fakta tak terpungkiri dampak negatif pengerukan pasir yang tak terkontrol dihulu dan hilir membuat badan sungai makin mengecil. Kondisi ini terpantau dialur sungai Aek Sigeaon yang membentang di tengah kota Tarutung,mulai dari jembatan Naheong hingga jembatan DI Panjaitan. 

Tidak terlalu berlebihan, bila disebut di sepanjang dasar sungai yang mengalir ditengah kota , tak lagi dilapisi endapan pasir , yang nampak adalah bebatuan dan dasar asli serta daratan  memanjang  hampir setengah badan  sungai. 

Jujur saja, bentangan sungai sigeaon sejak dulu justru memperindah wajah  Tarutung sebagi pusat pemerintahan serta ibu kota kabupaten Tapanuli Utara. 

Tanpa sungai ini boleh jadi, kota Tarutung tidak ada nilai plusnya dari sisi keindahan.  Sungai yang terbentuk  dari sononya  mengalir dari hulu hingga bermuara ke sungai Batang Toru  bila dikemas sedemikian rupa akan menambah nuansa keindahan kota . 

Hampir keseluruhan saluran air di kota ini bermuara kesungai Aek Sigeaon. Tidak heran sebagian besar drainase atau gorong-gorong  dibuat dibawah badan jalan   tembus ke arah sungai. 

Terlepas dari apakah kurang diperhatikan atau seperti di pandangan fraksi PKB,  tetapi akibat tumpukan tanah dibagian pinggir sungai  menjadi pemicu mempercepat rusaknya badan jalan. 

Dimana aliran air yang tertahan dalam ujung gorong-gorong menimbulkan erosi  secara pelan namun pasti akhirnya membuat amblasnya badan jalan. 

“Air yang mengalir dalam gorong-gorong tidak lagi langsung terbuang kesugai akhirnyanya menimbulkan erosi disekitar dan membuat sebagian badan jalan amblas”,kata seorang warga kota. 

Dari pantauan, kurang lebih ada sepuluh gorong-gorong pembuangan air kesungai Sigeaon ada di sepanjang jalan Diponegoro Tarutung,( jalan tanggul-red). 

Diduga keras terjadinya erosi disekitar riol mengakibatkan anjloknya badan jalan terpicu gundukan tanah saat melakukan normalisasi sungai tidak dibuang keluar malah ditumpuk di sisi kanan kiri sungai yang pada akhirnya menjadi sebuah daratan memanjang  sulit ditembus debit air yang mengalir dalam riol.

Daratan memanjang di kedua sisi badan sungai serta merta memperkecil dasar sungai. Dampak lain puluhan saluran air dalam kota yang bermuara ke sungai Sigeaon tak lagi berjalan lancar. 

Sorotan media terhadap maraknya penggalian pasir dari sungai Aek Sigeaon baik di hulu dan di hilir, nampaknya  “tidak diterge”. Bahkan ada kesan pembiaran dari pihak berwenang dalam hal ini Badan Balai Wilayah Sungai (BWS)  Sumatera II Kementerian PUPR.

Baca Juga:   Siapakah Calon Sekda Defenitif Yang Dipakai Bupati Aceh Selatan?

Disatu sisi, disebut sebut pasir hasil galian illegal itu digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan pembangunan proyek pemerintah melalui pihak ketiga di Tapanuli Utara. 

Terlalu mengada-ada ,disebut  pasir sungai  menutupi kebutuhan kepentingan warga Taput melalui penggali ilegal.  

Sebab dimasing-masing kecamatan diluar Tarutung-Sipoholon dan Siatasbarita tersedia sumber-sumber pasir, untuk digunakan diwilayah masing-masing.   

Tidak tertutup kemungkinan sebagian besar pasir galian penambang ilegal disungai Sigeaon dipasarkan keluar daerah. 

Fraksi PKB diketuai Novada Sitompul dan Sekretaris Herman MP Manalu dalam pendapat akhir paripurna agenda peningkatan status BPBD  (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Tapanuli Utara (Taput) menjadi Klasifikasi A, dibacakan Royal Simanjuntak mengatakan,  pasir dari Aek Sigeaon lebih banyak digunakan diluar Tapanuli Utara. 

Penggalian pasir  illegal dari sungai Aek Sigeaon dipandangan  fraksi PKB DPRD Taput sebagai bencana yang sengaja dibiarkan terjadi.

Dampak negatif ditimbulkan maraknya penyedotan pasir dari sungai Sigeaon selain memicu amblasnya badan jalan yang dilintasi drainase atau gorong-gorong dibawah badan jalan, telah merugikan pemerintah daerah Tapanuli Utara. 

Bayangkan saja, besaran dana perbaikan gorong-gorong yang ada diseputaran Tarutung sekitar termasuk disepanjang jalan Rakkea Sipapagan belum lagi sebuah jembatan masih dijalan Rakkea Sipapagan telah mencapai miliaran rupiah. 

Terpantau dalam dua tahun  terakhir, ada 7 titik drainase (gorong-dorong) dibawah badan jakan Diponegoro dan jln Rakkea Sipapagan serta sebuah jembatan masih di jalan Rakkea Sipapagan di perbaiki dengan menyedot dana daerah mencapai 2 miliar rupiah. 

Penertiban galian C Pasir Ilegal di Aek Sigeaon yang kurang diperhatikan kementerian terkait , mengakibatkan beberapa gorong-gorong di jalan Diponegoro amblas serta jembatan di jln Rakkea Sipapagan anjlok, sebut fraksi PKB. 

Artinya disini, status Kualifikasi A yang disandang BPBD Tapanuli Utara,akan lebih proaktif menangani bencana. 

Kondisi sungai Sigeaon yang khusus yang membentang di wilayah Tarutung sudah pada amburadul, dan tak lagi sebuah sungai yang menambah nuansa keindahan kota dan sungai yang pantas dibanggakan. 

Pihak berkompeten dalam hal ini, Balai Wilayah Sungai (BWS)  Sumatera II Kementerian PUPR adalah instansi paling bertanggungjawab untuk melestarikan sungai Aek Sigeaon. 

Untuk melestarikan alur sungai Aek Sigeaon khususnya yang membentang di kota Tarutung, diharapkan pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera II melakukan normalisasi dengan membuang endapan daratan yang ada di sisi kiri kanan. 

Serta membuat bendungan setinggi setengah meter saja di sekitar jembatan DI Panjaitan. Fungsi bendungan untuk menahan endapan pasir didasar sungai sepanjang jalan diponegoro. 

Bila ini terjadi selain lokasi tertata apik,dasar sungai boleh digunakan lokasi kegiatan hiburan rakyat pada momen hari-hari besar tertentu,serta gorong-gorong atau drainase dibawah badan jalan Diponegoro dan Rakkea Sipapagan bisa berusia lama serta tentunya mengembalikan keasrian sungai mendukung keindahan kota Tarutung, itu saja. ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here