Rabu, November 25, 2020
Beranda Artikel Air Minum dan Tanaman Ekualiptus di Taput

Air Minum dan Tanaman Ekualiptus di Taput

Catatan: Marudut Nainggolan
(Wartawan Hr Realitas dan Realitasonline)

“Aek Na Las” atau “Aek Napa” sebuah sungai perpaduan beberapa anak-anak sungai mengalir didataran kaki bukit Dolok Paung di Dusun Adian Padang, Desa Sabungan Ni Huta IV, Kecamatan Sipahutar-Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) .

Dibagian hulu sungai oleh pihak Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) Mual Natio Taput membangun sebuah bendungan berfungsi mendistribusikan air bersih untuk kebutuhan masyarakat (pelanggan).

Tercatat sebanyak 1.158 pelanggan atau mencapai 3000 an warga dikecamatan Sipahutar sehari-hari menggunakan air bersumber dari sungai Aek Na Las, belum lagi nanti pelanggan disebagian wilayah perbatasan kecamatan Siborongborong yang nantinya mendapatkan pendistribusian air bersih dari sumber air tersebut.

Selain konsumen PDAM, air sungai Aek Na Las digunakan masyarakat banyak yang bermukim dibeberapa desa lintasan untuk keperluan keseharian.

Nama sungai ini mencuat kepermukaan setelah media memberitakan debit air sungai surut terlebih dugaan kualitas air tercemar diduga oleh tanaman pohon jenis ekualiptus miliknya TPL (Toba Pulp Lestari).

Terungkap, ternyata masyarakat pernah  protes dan keberatan atas aktivitas penanaman pohon ekualiptus disekitar dengan menyurati Pemkab Taput bermohon agar disepanjang anak sungai bermuara ke sungai Aek Na Las tidak ditanami ekualiptus. Warga takut sumber air surut dan kualitas air bisa tercemar oleh aktivitas proses pertumbuhan tanaman ekualiptus hingga masa panen.

Keberatan warga ini, dibenarkan Dirut PDAM Mual Natio, Lamtagon Manalu dihadapan media Senin (9/11).

Itu terjadi tahun 2016, warga protes terhadap aktivitas di lokasi HTI TPL. Selain  surat keberatan kata Lamtagon didampingi Kabag Teknik, Silaban,warga minta , disepanjang anak sungai yang bermuara ke Sungai Aek Na Las tidak ditanami pohon ekualiptus untuk antisipasi  sumber air tercemar.

Pemkab menyikapi, bersama kita turun ke lokasi, selanjutnya meyurati TPL dan membuat pamplet melarang eksploitasi disekitaran bibir sungai,ungkap Lamtagon.

Aktivitas dibibir sungai berlanjut, tentu masalah lagi. Kembali Dirut PDAM menyurati Dewan Pengawas untuk kembali memfasilitasi pertemuan dengan pihak TPL.

Pada pertemuan antara pengelola perusda air minum Taput dgn pihak toba pulp lestari sepakat mengambil sample air sungai untuk diuji di laboratorium masing-masing.

Sungai Aek Na Las dikelola PDAM Mual Natio unt7k kebutuhan ribuan warga Sipahutar. (ist)

Lamtagon  sebut  laboratorium milik TPL menunjukkan  kualitas air sungai  Aek Na Las  tidak tercemar alias baik.  Sebaliknya laboratorium milik Dinas Linkungan Hidup Taput  menunjukkan kualitas air kurang baik.

Masih di tahun 2016 sebagai akibat protes masyarakat  terhadap aktivitas penanaman pohon ekualiptus yang mengancam kualitas dan kuantitas air oleh Pemkab Taput menyurati pihak TPL meminta agar disepanjang anak sungai yang bermuara ke Sungai Aek Nalas tidak ditanami pohon ekualiptus.

Terlepas apakah protes warga ini disikapi positif  dan ditindak lanjuti pihak TPL biarlah mereka yang tahu. Tetepi sejak dua tahun terakhir, kualitas air Sungai Aek Nalas  menurut masyarakat setempat tak lagi jernih seperti dahulu.Tak hanya keruh, kondisi air sungaipun semakin surut.

“Sejak dua tahun terakhir, kualitas air Sungai Aek Nalas sebagai sumber air bersih untuk dikomsumsi semakin mengkhawatirkan. Hujan sebentar saja, air sungai sudah langsung keruh,” terang Pak Simanjuntak, warga sekitar.

Air sungai Aek Nalas menjadi satu-satunya tumpuan masyarakat setempat dalam memperoleh kebutuhan air bersih, dan air minum.

Kualitas air hingga debit sungai Aek Nalas yang drastis menurun menjadi persoalan kebutuhan vital  dikeluhkan warga.

“Sejak dahulu kala air sungai Aek Nalas sangat meyakinkan hingga airnya dikomsumsi masyarakat sebagai air minum, bahkan dikelola pihak PDAM Mual Natio bagi kebutuhan ribuan warga.

Surat yang dikirimkan Pemkab Taput terkesan tidak di indahkan.  Kesepakatan bersama memutuskan untuk meniadakan aktivitas di bagian hulu sejarak lebih kurang 100 meter dari jalur aliran air terkangkangi,pungkas Simanjuntak diamini beberapa warga sekitar.

Terpantau, sejauh sekitar 300 meter ke arah hulu, kondisi beberapa jalur mata air sebagai asal kumpulan air di Sungai Aek Nalas, kini telah ditanami bibit pohon eukaliptus.

Termasuk jalur hulu sungai sejauh lebih kurang 1 km dari lokasi bendungan,  semakin sempit dengan penanaman pohon eukaliptus hingga menjorok ke badan sungai Aek Nalas.

Kondisi inilah yang menghantui masyarakat. Dugaan ,aktivitas menyalah di lahan konsesi ini berpotensi mencemari kualitas air sungai Aek Nalas.

“Boleh jadi  dari campuran kimia pemupukan pohon eukaliptus berdampak buruk pada kualitas air, termasuk aktivitas penanaman pohon yang menjorok hingga ke badan sungai telah menghilangkan kejernihan air,” masih kata Pak Simanjuntak menyampaikan kekuatirannya.

Direktur PDAM Mual Natio Taput Lamtagon Manalu ungkapkan, dugaan pencemaran sumber air bersih melalui aliran Sungai Aek Nalas di Desa Sabungan Ni Huta IV, Kecamatan Sipahutar, mengancam kesehatan sedikitnya 30 ribu jiwa penduduk Tapanuli Utara.

“Saat sumber air Aek Nalas benar-benar tercemar, hal tersebut akan mengancam kesehatan sedikitnya 30 ribu warga Taput,” ujar Lamtagon kepada media, Senin (9/11).

Jumlah tersebut kata Lamtagon berdasarkan jumlah pelanggan di wilayah Sipahutar sebanyak 1.158 pelanggan beserta keluarganya, serta pelanggan di wilayah Siborongborong dan sekitarnya yang nantinya akan mendapatkan pendistribusian air bersih dari sumber air dimaksud.

Ancaman tersebut akan terus menghantui masyarakat, sebab aktivitas pemupukan eukaliptus akan dilakukan pihak PT Toba Pulp Lestari secara terus menerus di wilayah itu,ujar sumber.

Pelanggan PDAM yang menerima pendistribusian air bersih melalui reservoar tentunya kondisi kandungan air masih mengalami sedikit pengendapan. Bagaimana pula dampaknya bagi masyarakat sekitar yang langsung mengonsumsi air dari sumber yang sama melalui jaringan air pedesaan. Ini keluhan yang kita terima dari pelanggan,aku Lamtagon.

Sekaitan dugaan pencemaran air di wilayah konsesi TPL sektor Habinsaran, lokasi di sungai Aek Nalas di Desa Sabungan Ni Huta ,Pemerintah  Tapanuli Utara mendesak pihak PT Toba Pulp Lestari (TPL) segera melakukan tiga hal.

Pertama  terang Dirut PDAM Mual Natio Lamtagon Manalu kepada media , penanaman bibit eukaliptus oleh TPL tidak boleh dilakukan sejauh jarak minimal 50 meter dari pinggir sungai, anak sungai, atau jalur mata air.

Poin kedua mendesak pihak TPL untuk membuat bedengan atau parit pada batas penanaman untuk menampung rembesan cairan kimia pemupukan bibit eukaliptus.

Dalam poin ketiga, pihak TPL juga harus menyampaikan jadwal pemupukan eukaliptus untuk keperluan monitoring dan pengawasan dampak aktivitas pada kualitas air.

Desakan untuk Toba Pulp Lestari merupakan tiga dari lima keputusan hasil rapat tertutup yang dipimpin Asisten Ekonomi Pembangunan Osmar Silalahi dan dihadiri Kepala Bagian Perekonomian Fajar Maningsing Gultom, Dinas Lingkungan Hidup, serta Direktur PDAM Mual Natio Lamtagon Manalu di Kantor PDAM Mual Natio, kata Lamtagon seperti diberitakan media.

Masih hasil rapat, urai Lamtagon,  Pemkab Taput juga akan segera menyurati Dinas Kehutanan untuk melepaskan lahan sejarak minimal 50 meter dari pinggiran sungai, anak sungai, atau jalur mata air untuk dimanfaatkan demi pelestarian sumber air.

Selain itu, Pemkab Taput juga memutuskan untuk mendirikan fasilitas instalasi pengolahan air untuk memastikan kualitas air bagi pelanggan PDAM Mual Natio, di wilayah tersebut.

Dari kondisi ini, yang terpenting bagi masyarakat banyak bagaimana sumber dan kualitas air sungai Aek Na Las tidak surut dan tercemari. Sebab bukankah air menjadi sumber kehidupan?.***

(Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER

‘Negeri Bertuah’ Kembali Diguncang Isu Corona, Jubir Satgas: Warga Kuala PDP, Bukan Positif Covid-19

STABAT - Realitasonline | Kabupaten Langkat yang kerap disebut dengan 'Negeri Bertuah' kembali diguncang isu corona karena salah satu warganya yang positif...

‘Sri Nabilla’ Dilepasliarkan ke Hutan TNGL

TAPANULI SELATAN - realitasonline.id | 'Sri Nabila', Harimau Sumatera berjenis kelamin betina yang telah selesai menjalani karantina di Taman Margasatwa Nagari Barumun...

“Barata” Dukung Perjuangan Relawan Kotak Kosong di Pilkada Humbahas

HUMBAHAS - realitasonline.id | Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) Bupati dan Wakil Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas) Baginda Polin Lumban Gaol SH MH dan Rajin...

“Dicomblangin”, Harimau Sumatra di London Dibunuh Calon Pasangannya

LONDON - RealitasOnline | Seekor harimau Sumatra mati di Kebun Binatang London. Harimau betina bernama Melati itu dianiaya calon pasangannya, harimau jantan...

BERITA TERBARU

Misi Rakit Selesai, Jembatan Krueng Teukuh Abdya Sudah Terhubung

BLANGPIDIE - realitasonline.id | Proyek pengerjaan jembatan Krueng Teukuh di Desa Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang...

Sumut Raih Peringkat ke-6 MTQN XXVIII, Rizki dan Taufik Dihadiahi Rp100 Juta

MEDAN – realitasonline.id | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) mengapresiasi Kafilah Sumut yang berhasil mengharumkan nama daerah ini di ajang Musabaqah Tilawatil...

Strategi Investasi di Kota Medan dan UMKM Diseminarkan

MEDAN - realitasonline.id | Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggelar seminar nasional Strategi Investasi di Kota Medan dan UMKM, Selasa (24/11/2020) di Sky...

Kadis Pertanian: Kebutuhan Bawang Merah untuk Sumut Capai 46 Ton Per Bulan

PADANGSIDIMPUAN - realitasonline.id | Kebutuhan bawang merah sast ini untuk Sumatera Utara (Sumut) Capai 46 ton per bulan, namun yang tersahuti baru...