Catatan Senin-Kamis; Aglomerasi vs Corona

0

TOK….. mudik pun dilarang. Pemerintah melalui Ketua Satgas Pencegahan COVID-19 sudah mengeluarkan Surat Edaran No.13 tahun 2021 dengan adendumnya.
Langkah ini juga diperkuat dengan Permenhub No. PM 13 tahun 2021 dengan memberi sedikit kelonggaran dalam aglomerasi; yakni kesatuan wilayah kabupaten dan kota yang saling berhubungan.

Untuk Sumut, wilayah Mebidangro (Medan-Binjai-DeliSerdang-Karo) masuk dalam kategori aglomerasi bersama 7 kawasan lain, yakni: Jabodetabek, Bandung Raya, Jogja Raya, Solo Raya, Semarang sekitarnya, Surabaya sekitarnya dan Makasar sekitarnya.

Intinya, masyarakat di wilayah aglomerasi bisa melakukan pergerakan di kabupaten/kota sekitarnya tanpa dikenakan aturan larangan mudik. Diluar wilayah itu akan dilakukan penyekatan dan penjagaan ketat terhitung tanggal 6-17 Mei 2021. Jika membandel tak mau balik arah bakal diisolasi 5 hari.

Awalnya orang bingung-bingung ada istilah aglomerasi. Larang-larang aja, macam lebaran tahun lalu. Semua harus dirumah karena wabah Covid-19 tahun lalu sedang ganas- ganasnya. Sekarang dikasih sedikit kelonggaran untuk mudik di wilayah aglomerasi. Tapi cemana pulak yang kampungnya diluar wilayah aglomerasi? Solusinya tetap ada, sekarang jaman serba canggih. Rindu keluarga, bermaafan bisa dilakukan secara virtual, melalui video call. Mau nangis nyesak-nyesak sampe ingus keluar meler-meler enggak masalah. Yang penting kuota internet cukup. Semua urusan silaturahmi bisa teratasi. Aman…, hana masalah.

Lantas apa masalah laennya? Hari pertama lebaran ok lah, masih kumpul-kumpul dirumah bersama keluarga terdekat yang tinggal dikota yang sama. Gitu jugak untuk kerabat yang laen bisa saling kunjung. Pokoknya suasana lebaran masih terasa.

Lebaran kedua, ketiga hingga tanggal 17 apa kegiatan. Ini pasti menimbulkan masalah baru. Namanya pulak lebaran, pasti yang ditunggu-tunggu tinggal hiburan dan berdarmawisata. Untuk wilayah aglomerasi Mebidangro sasaran wisatanya hanya ke Berastagi. Kalok di Medan paling banter nongkrong2 di pusat perbelanjaan, di Deli Serdang ada tempat wisata pantai tapi kurang representatif, di Binjai malah sama sekali enggak ada tujuan. Kloplah sudah, tujuannya hanya 2; pusat perbelanjaan di Medan dan Brastagi.

Lebaran tetap terasa khidmat, walau disekat. Ini bagian dari puncak hari kemenangan setelah menjalani puasa Ramadan sebulan penuh. Makanya, dihari yang fitrah ini semua umat Islam akan merayakannya. Uang cash pun beredar, karena mulai dari THR dan tunjangan lainnya digelontorkan. Pokoknya semua pasti pegang duit, mau yang tua sampe anak2, yang bedakan cumak besar kecilnya. Tradisi yang sudah berlangsung turun temurun ini biasanya ditandai dengan saling bermaafan. Kunjung mengunjung, sungkeman hingga makan-makan adalah tradisi yang lumrah. Istilahnya, yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Itulah konteks lebaran dengan beragam pernak-perniknya.

*****

Lantas, bagaimana korelasinya dengan wabah Covid-19? Jelas saling berkaitan. Pelarangan mudik maupun penerapan aglomerasi adalah upaya menekan penyebarluasan wabah virus corona ini. Perpindahan masyarakat antar daerah secara berkelanjutan selama lebaran dikhawatirkan tak terkendali, makanya dilakukan penyekatan agar tidak menimbulkan klaster baru. Itu teorinya, sehingga mudik yang berdampak menimbulkan pergeseran masyarakat secara besar-besaran dari satu wilayah ke wilayah lain dapat diantisipasi.

Atas nama Covid-19 kita semua sepakat untuk itu. Tapi, sudahkah dipikirkan penerapan aglomerasi ini dalam konteks suasana lebaran? Mudik lebaran dilarang ok. Warga berarti tidak keluar dari wilayah aglomerasi. Mau silaturahmi silahkan, tapi tetap dalam satu kota/ kabupaten yang berhubungan. Selanjutnya setelah silaturahmi dilanjutkan berliburan ria. Khusus untuk aglomerasi Mebidangro, tujuan wisatanya hanya ke kota sejuk Berastagi.

Disinilah masalah baru terkait penyebaran Covid-19 bisa menimbulkan masalah. Bayangkan, penduduk Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo totalnya lebih dari 5 juta jiwa berdasarkan hasil sensus 2020 lalu. Jika 1 persen saja atau 50 ribu warga wisata ke Berastagi setiap hari dan 1 persen lagi menumpuk di pusat perbelanjaan di Medan, bagaimana mengantisipasi penyebaran virus Corona? Apa tidak mungkin akan muncul klaster baru yang lebih dahsyat? Masalahnya, Brastagi bukan kawasan wisata yang luas. Disana hanya menawarkan udara sejuk dan belanja buah. Paling mereka semua menumpuk di Gundaling. Belum lagi akses jalan yang tidak seimbang dengan volume kendaraan, rawan longsor hingga kemacetan sudah menjadi pemandangan yang biasa.Itulah Brastagi dengan segala kompleksitasnya bisa menjadi klaster baru bagi penyebaran Covid-19 jika tidak diantisipasi sedini mungkin.

Apalagi, wabah Covid -19 ini menyebar bak fenomena gunung es. Kecil di permukaan, tapi membesar dibawah. Data kasus yang terungkap pasti jauh lebih besar yang belum terungkap. Banyak sebenarnya pelajaran berharga didepan mata kita. Contoh terkecil di Kesawan City Walk Medan yang belum lama diresmikan Walikota Bobby Nasution. Hampir tiap malam, khususnya di malam libur, masyarakat tampak tumpah ruah. Belum lagi jika libur lebaran nanti. Jika tidak diantisipasi, pasti akan jadi catatan buruk bagi pemerintah menekan angka Covid-19 di Medan. Belum lagi kasus daur ulang swab test di Kuala Namu, makin menambah catatan miring keseriusan pemerintah dalam penanganan Covid-19. Semua ini saling berkolerasi. Berupaya menekan penyebaran, namun tak seiringi dengan prilaku mental petugasnya.

Tahun lalu diawal menyebarnya wabah Covid-19, semua pergerakan terhadap virus diantisipasi sedini mungkin. Setiap hari media memberi porsi pemberitaan Covid-19 sampai 90 persen dengan berbagai dinamikanya. Mulai temuan pasien baru, penguburan, proses isolasinya hingga dinamika yang terjadi di masyarakat dikemas dalam berita yang terkesan memomoki warga. Semua takut, hingga cara bersilaturahmi org timur yang biasanya bersalaman, berpelukan, cipika-cipiki, hingga sungkempun berganti dengan cara yang modern. Cukup beradu tangan, atau beradu kaki. Intinya enggak bersentuhan, titik.

Sekarang sedikit diperlonggar. Semua kegiatan boleh dilakukan, tapi dengan aturan PPKM mikro skala terbatas dan tetap mengikuti protokol kesehatan. Namun, akankah Covid-19 menjauh dari kita? Jawabannya sangat tidak mungkin. Covid-19 dan kita sudah hidup berdampingan. Wujudnya tak terdeteksi, dan tidak ada juga tanda2 fisik secara spesifik bagi yang terkonfirmasi gejala awal kecuali dilakukan ditest swab.

Lantas, kenapa pemerintah berani mengklasterkan wilayah dalam konteks aglomerasi? Adakah jaminan kasus Covid-19 tidak akan meningkat? Atau ada rencana lain dibalik semua ini? Beragam pertanyaan terus bergelanjut didepan mata. Kini terpulang pada kita. Virus Corona sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Budaya hidup sehat, budaya bersih dan disiplin melakukan 3M adalah salah satu solusinya.

Namun agaknya pemerintah perlu bijaksana melakukan kajian dalam menerapkan kebijakan. Mentiadakan mudik namun mengklasterkan wilayah aglomerasi sebenarnya bukan solusi. Kata pepatah Jawa; kalok wani ojo wedi-wedi, kalok wedi ojo wani-wani, sebenarnya identik dengan ketegasan. Jika takut penyebaran Covid-19 meningkat, kenapa bersikap ambigu. Aglomerasi dalam suasana lebaran mengantisipasi Covid-19 bukan solusi, malah kekhawatirannya bisa menimbulkan masalah baru. Lebaran tinggal beberapa hari lagi, mudah-mudahan hal yang menakutkan tidak terjadi. Jika terbukti, jangan dianggap kami tak peduli. Itu saja.

*Syahrir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here