Catatan Senin-Kamis; Antara Hati dan Rasa

0

Bekerja, berbuat, lakukanlah dengan hati. Jangan dengan rasa. Dengan hati kita akan selalu berhati-hati setiap melangkah dan menjalani kehidupan. Jika dengan rasa yang mengemuka adalah perasaan. Dan, jika perasaan itu sudah mengkristal, yang akan muncul adalah sikap kesombongan. Perasaan hebat, perasaan pintar, perasaan cantik. Semua yang berbau perasaan akan ada dalam diri kita dan menjelma menjadi keserakahan.

Hati adalah organ dari dalam tubuh kita. Bentuknya sering dianalogikan dalam bentuk cinta. Makanya jika dua orang berlainan jenis sudah memadu cinta, biasanya akan melangkah pada aktivitas lainnya. (maaf, enggak perlu dibahas lagi).

Bagaimana dengan rasa? Rasa tak berwujud. Selalu dianalogikan dalam bentuk aktivitas lidah. Rasa manis, rasa asin, rasa pahit, rasa hambar, dan berbagai istilah rasa lainnya. Rasa ini juga tak akan sama jika dirasakan oleh dua manusia berbeda. “Rasanya terlalu manis, aku kurang sukak,” kata yang satu. Yang satu lagi pun menyanggah. “Enggaklah, inilah yang enak. Rasanya udah pas. Manisnya cukup, tidak terlalu kental,” kata yang satu lagi.

Memaknai rasa antar dua orang pun sudah menimbulkan pendapat berbeda. Lidah yang mengecap, perasaan yang mengemuka. Dan, perasaan inilah yang menimbulkan ego dalam diri. Merasa dirinya yang paling tau, merasa paling betul, merasa paling hebat dan berbagai varian perasaan yang mengkristal dalam diri kita.

 *****

Hati dan rasa hanya sebuah makna biasa. Namun jika dijadikan pedoman hidup akan menimbulkan dampak luar biasa. Hati selalu diberi makna positif, hanya beberapa kata sifat yang berkonotasi negatif, seperti; busuk hati, sakit hati, iri hati, dan beberapa lainnya. Selebihnya, jika kata hati dipadankan dengan kata lain atau diberi imbuhan awalan dan akhiran lebih banyak memberi makna positif.

Cendekiawan muslim Prof. Komaruddin Hidayat bilang, kata ‘hati’ berkaitan dengan sikap batin yang selalu ingin mendapatkan rasa damai, kasih, sadar, tulus, peduli serta cinta. Ketika kita bingung memutuskan suatu perkara, dianjurkan agar mendengarkan hati nurani atau suara hati. Nabi Muhammad sendiri bersabda; siapa yang hatinya baik, baiklah semua prilakunya. Namun, siapa yang hatinya sakit, sakitlah semua amalnya.

Katanya lagi, dari hati terpancar energi kebaikan dan keburukan, dorongan kearah kemuliaan atau kenistaan, karena suara hati selalu mengajak pada perbuatan kebaikan. Dan, orang bijak selalu mendengarkan kata hatinya sebelum berbicara dan bertindak.

Rasa identik dengan sebuah keragu-raguan. Tak pernah sama antar manusia, tapi karena mengendap lama dalam diri kita akan menjelma menjadi sikap ego yang berlebihan. Rasa sering menimbulkan syak wasangka dan firasat, namun validitas faktanya hanya berupa rangkaian argumentasi dalam diri yang mengkristal menjadi sebuah kesimpulan.

“Rasanya ada yang aneh. Perasaanku enggak enak. Koq belum pulang sampe gini malam. Pasti dia singgah kemana-mana,” kata seorang istri curiga menunggu suaminya pulang kerja. Ternyata, faktanya sang suami terlambat pulang karena ban sepeda motornya bocor, sehingga harus mencari tukang tempel ban. Setelah didorong hampir 1 km, barulah tukang tempel ban ketemu.

Baca Juga:   Ekonomi Kreatif Tumbuhkan Perekonomian Masyarakat di Masa Pandemi

Alhasil, sang suami terlambat pulang ke rumah 2 jam lebih. Pastilah sang istri timbul curiga, perasaannya bermain. Dampaknya, pertengkaran seperti ini akan terjadi jika menggunakan perasaan. Ego kita muncul, tapi tak pernah menguji fakta. Makanya; tabayyun atau check and recheck lah. Uji faktanya, verifikasi datanya, baru perasaan akan menjelma menjadi kepastian.

 *****

Segala hal yang berkaitan dengan hati dan rasa sebenarnya berlangsung setiap saat dan selalu ada di sekitar kita. Sering kita dihadapkan dalam bayangan keduanya dalam menjalani kehidupan. Menggunakan hati bertujuan agar kita melakukan introspeksi dan mawas diri, namun yang mengemuka dalam rutinitas hidup kita selalu berkutat dalam nilai rasa yang menjelma menjadi perasaan.

Mengedepankan sikap kehati-hatian sering terabaikan manakala kita ingin mencapai satu tujuan, dan yang mengemuka seringkali terbawa perasaan. Tak ubahnya sikap ego, inilah yang terjadi dan selanjutnya menjelma menjadi rasa optimisme. Ajakan perasaan pun terbawa, melangkah pakai kacamata kuda, tak lihat kiri kanan. Maju terus, tanpa pernah berkaca diri. Pokoknya, ribak sude lah. Segala cara pun dilakukan. Semua penghadang ditantang, bahkan ditendang. Ujian dianggap penghalang, yang dibutuhkan hanya pujian. Dan, untuk mencapai semuanya nilai rasa lah yang paling mengemuka. Merasa hebat, merasa jago, merasa pintar, atau segala bentuk nilai rasa yang ada dalam dirinya. Pokoknya, keakuan menjadi segala-galanya untuk menggapai tujuan.

Lantas, akankah cara ini yang harus kita lakukan? Inilah sifat asli manusia. Hawa nafsu sudah menghantui, abai dalam pengendalian diri hingga terjerumus dalam keserakahan. Segala hal yang bernuansa ketidaksempurnaan seakan dijadikan keabadian. Tak pernah merasa puas, bahkan menjurus buas.

Harusnya, mengalirlah seperti air. Melangkah pelan tapi pasti, ketimbang berlari cepat tapi tak bertepi. Hiduplah apa adanya, seimbangkan antara hati dan rasa. Silahkan menguatkan perasaan, namun harus mengedepankan kehati-hatian. Jika langkah ini terjadi hampir dipastikan kita lebih banyak mawas diri sekaligus intropeksi diri. Dan, pencapaian akhir adalah sebuah prestasi.

Sikap optimisme memang harus kita bangunkan dalam setiap diri manusia, karena optimisme ini merupakan spirit untuk melangkah maju. Namun, pendukung optimisme harus terpenuhi. Mulai mengukur kemampuan diri, mengantisipasi resiko diri hingga memahami fenomena yang terjadi. Jika langkah ini dikedepankan, biasanya target yang ingin dicapai tinggal menggapainya saja.

Lagi-lagi berusahalah menyeimbangkan antara hati dan rasa. Jika keduanya mampu dikendalikan, biasanya semua peluang mudah tercapai. Hindari menggunakan perasaan, karena perasaan lebih gampang dirasuki setan. Jika syaitan sudah mengendalikan, rasanya kita mudah terasuk dalam jebakan.

Perjalanan kita sebagai manusia masihlah panjang. Hidup ini cumak sementara. Bukan bermaksud untuk menggurui atau menasehati, akupun secara pribadi harus mencamkan ini. Melangkah, berjalan hingga mengakhiri harus punya perhitungan pasti. Hari ini, besok atau lusa nanti adalah harapan. Songsong semuanya, kejar keinginan kita, namun lagi-lagi tetaplah menseimbangkan antara hati dan rasa. Jika ini tercipta, hampir dipastikan kita akan menikmati segalanya. Semoga semua ini ada dalam diri kita. Itu saja. 

*Syahrir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here