Catatan Senin-Kamis; Character Assassination

0

PEMBUNUHAN karakter artinya, tapi maknanya luar biasa. Dunia pun bisa terguncang. Tak satu pemimpin dunia yang lengser akibat pembunuhan karakter ini. Peristiwa pembunuhan  Presiden AS,  John Fitgerald Kennedy tahun 1963 sampai saat ini masih meninggalkan misteri. Penyebab pembunuhan mantan wartawan Hearst Newspapers ini adalah character assassination yang dilontarkan lawan politiknya. 

Serunya, pembunuh Presiden Kennedy juga tewas dibunuh oleh orang lain sebelum diadili. Sebuah lingkaran pembunuhan tingkat tinggi ini terus menimbulkan misteri sampai saat ini.  Memang, kasusnya digulir ke pengadilan yang berujung pembentukan komisi khusus yang dipimpin Ketua Mahkamah Agung AS. Putusannya; pembunuh John F. Kennedy murni dilakukan Lee Harvey Oswald seorang diri, dan bukan bagian dari konspirasi politik. Publik AS marah hingga tahun 1979 Komite Pemilihan DPR AS menyimpulkan dan percaya pembunuhan Kennedy akibat dari konspirasi politik.

Di negeri tercinta ini pun Presiden Gus Dur pernah mengalaminya. Presiden yang dianggap kontroversi ini akhirnya dimakzulkan dengan berbagai isu diantaranya kasus Buloggate, kasus Brunaigate hingga dianggap antek Jahudi karena membuka hubungan dagang dengan Israel. 

Yang menarik dan jadi gorengan publik beredar foto mirip Gus Dur sedang memangku mesra seorang perempuan bernama Aryani Sitepu, bahkan muncul pengakuan bermaterai  dari Aryani Sitepu yang menyebutkan dirinya pernah berhubungan intim bak suami istri. Isu ini langsung melebar kemana-mana, apalagi berlangsung saat akan dilakukan reshuffle kabinet. Untung saat itu belum ada medsos, jika tidak Gus Dur akan dibully dan diviralkan habis-habisan.

Namun bukan Gus Dur namanya jika tidak mampu mengatasi. Saat organisasi tempatnya bernaung Nahdatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta klarifikasi atas pembunuhan karakter ini, Gus Dur dengan enteng menjawab, “ gitu aja koq diurusin.”

*****

Character assassination. Jika  berdiri sendiri pun memiliki kekuatan. Karakter; watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti seseorang. Begitu juga assassination; pembunuhan. Kata assassination sendiri berakar dari bahasa Arab; assassins. Diceritakan assassins ini adalah kelompok garis keras di Arab dibawah kepemimpinan Hasan Al-Sabbah yang besar di abad 13. Kelompok ini menjalankan perintah pimpinannya dan siap mati untuk melakukan teror, pembunuhan setelah mengkonsumsi hashish atau candu/ganja. Sikap siap mati dan melakukan apa saja  merupakan efek halusinasi dari hashish tadi.  Dari sinilah muncul kata assassination yang dimaknai suatu proses pembunuhan yang terencana, terorganisir bahkan lebih sadis dari kata pembunuh bayaran.

Jika kedua kata ini digabungkan; character assassination (pembunuhan karakter), segala sesuatu terkait dengan masa depan setiap orang pun bisa dihancurkan disini.  Gerakannya tak berwujud, namun berlangsung  masif dan sistematis. Langkah pembunuhan karakter inipun menggunakan 2 metode; fakta dan fitnah. Untuk fakta, biasanya berlangsung secara terbuka. Pihak yang menyerang akan menggunakan data dan kelompok orang yang memiliki kemampuan/keahlian seimbang atau lebih. Biasanya publik lah yang menjadi penentunya. Kekuatan dari figur penyebar dan penganalisis informasi juga menjadi alat ukur, selanjutnya bak debat kusir, perang gagasan tak pelak akan berlangsung sahut menyahut.

Bagaimana dengan metode fitnah? Disinilah kekuatan makna pembunuhan karakter itu. Bak gerakan bawah tanah, sang ‘killer’ akan melempar isu dengan segala cara. Dulu gerakan ini dilakukan dari mulut ke mulut, bahkan kekuatan emak-emak pun dijadikan alat. Malah diplesetkan  kalangan perempuan dianggap  ‘bermulut dua’, karena melakukan  aktifitas ngerumpi, menggosip, mengguncing atau entah apalah namanya sesukaknya,  tanpa data dan fakta. Tak pelak bagi kaum laki-laki yang sering mengguncing orang lain selalu dibilang; “mulut kau macam mamak-mamak, sukak kali mengguncing.”

Serunya, pembunuhan karakter ini muncul disaat saat tertentu, dan biasanya dikemas dalam setiap kontestasi untuk suatu perebutan kekuasaan, baik sekala besar maupun kecil. Proses demokratisasi dipolitisasi dengan segala cara. Mulai dari pemilihan Presiden sampe pemilihan Ketua RT sekalipun akan berlangsung proses ini, dan untuk mengganjal lawan politik  pembunuhan karakter lah  dianggap cara yang paling ampuh.

Baca Juga:   Ekonomi Kreatif Tumbuhkan Perekonomian Masyarakat di Masa Pandemi

Sekelas Presiden Jokowi pun berulang kali jadi korban pembunuhan karakter. Mulai dari isu yang dihembuskan jika terpilih akan melarang azan di masjid, isu keturunan PKI dan banyak lagi isu yang dilontarkan secara terstruktur. Begitu juga Prabowo selaku lawan politiknya saat Pilpres pun jadi korban. Kasus pelanggaran HAM hingga isu keluarga pun digoreng. Serunya setelah Pilpres usai, mereka pun duduk sama membangun bangsa; Jokowi Presiden, Prabowo Menhan. Seakan clear, tapi bisa jadi gadoh lagi jika ada kontestasi. Itulah politik.

Jenderal AH Nasution pun merasakan kekuatan fitnah saat terjadi pembantaian 7 pahlawan revolusi. Dalam pidato pemakaman di TMP Kalibata, sang Jenderal Besar dengan suara terbata-bata  menitikkan air mata menyebutkan kekejian dan kekejaman PKI yang menebar fitnah dan pengkhianatan ke bangsa ini.

“Tetapi dengan keimanan, kami semua yakin, bahwa yang benar akan tetap menang dan yang tidak benar akan hancur. Fitnah, fitnah berkali-kali. Fitnah lebih jahat dari pembunuhan, kita semua difitnah dan saudara-saudara kita dibunuh.”

*****

Lagi-lagi politik. Semua cara dihalalkan dan semuanya berujung pada kepentingan. Proses demokrasi tak lagi demokratis. Tak ada lagi kelompok yang bertarung secara elegan. Membangun kepercayaan publik dengan menggelontorkan program dalam setiap kontestasi  hanyalah bagian kecil  dalam setiap pertarungan. Yang mengemuka dan menjadi prioritas utama adalah pembunuhan karakter. Menebar fitnah dan mengelindingkan  hoax dianggap solusi jitu untuk menjatuhkan kredibilitas lawan. Dan penggunaan medsos pun dijadikan perangkat komunikasi yang paling efektif untuk melakukan langkah ini.

Fitnah, menebar  hoax adalah bagian yang tak terpisahkan dari  strategi pembunuhan karakter. Ini merupakan kejahatan peradaban yang sudah melanda bangsa. Apalagi dalam kecanggihan teknologi saat ini, perbuatan pembunuhan karakter seakan dilegitimasi. Proses demokrasi sudah memperalat semuanya, dan produk dari proses itu hanya akan menghasilkan politik dinasti dan politik balas budi. Sayangnya untuk mencapai tujuan tetap menggunakan politik  busuk hati.

Ya, proses demokratisasi sedang berlangsung dalam setiap sisi kehidupan kita. Tujuan utamanya pasti untuk meraih kesuksesan. Padahal, setiap kemenangan pasti ada caranya, namun untuk mencapainya jangan menghalalkan segala cara. Melakukan pembunuhan karakter adalah cara yang mudah, namun langkah ini sangatlah tidak bijaksana. Jika kita melakukannya, siapkah kita menerima hal yang sama ke diri kita?

Islam sendiri selalu mengingatkan umatnya untuk tabayyun; mencari kejelasan hingga menemukan  info sebenarnya.  Tidak tergesa-gesa, bahkan harus meneliti kebenarannya. Ini juga sejalan dengan profesi kewartawanan. Menguji informasi melalui aktifitas check and recheck adalah hal yang mutlak dilakukan agar tidak menimbulkan informasi yang berat sebelah, apalagi dalam jurnalisme menganut asas keberimbangan, independen, tidak berbohong, tidak memfitnah dan berlaku profesional.

Enggak perlulah melakukan pembunuhan karakter. Instropeksi diri saja. Sekarang semua proses kehidupan sedang berlangsung, termasuk  demokratisasi. Teguhkan tekad, bangun semangat. Bangun politik baik hati dan rendah hati, bukan politik iri hati apalagi busuk hati. Yakinlah,  jika kebusukan dan niat buruk yang mengemuka, berarti kita akan menunggu kehancuran. Tinggal kita memilih. Bijaksana atau pijaksini. Itu saja.

Syahrir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here