Catatan Senin-Kamis; Pak, Pening Kami, Mampuslah

0

PANIK-Pening-Kesal-Maklum. Ya, inilah yang terjadi. Kepanikan muncul karena sejumlah ruas jalan disekat, dilarang dilewati. Yang bikin pening jalan yang dilarang dilewati cumak akses masuk kejalan itu saja. Diputar dikit kejalan alternatif, eh malah ketemu lagi. Ini yang buat kesal. Tapi, mau tidak mau kita musti maklum. Kebijakan sudah dibuat pemerintah, mau melawan ada sanksi pidananya, dan tak pandang bulu penerapannya. Itulah celoteh warga tentang PPKM. Gambaran sikap masyarakat ini terlihat saat menghadapi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang berlaku di Medan sejak Senin (12/7) lalu dan baru akan berakhir besok. Kabarnya bakal diperpanjang lagi, entahlah.

Bayangkan, sejak pandemi Covid-19 melanda negeri, baru kali ini kota Medan disekat bak menghadang musuh datang. Sejumlah akses masuk ke jalan protokol dilarang dilewati, tapi mutar dikit dan balik lagi ke jalan protokol tadi dibolehkan. Entah apa parameternya, kayaknya pemerintah macam tau virus corona bakal lewat situ. Termasuk semua aktifitas warga dibatasi. Mulai berjualan, nongkrong, bekerja hingga kegiatan sosial yang berbau kerumunan tidak diperbolehkan. Melanggar, sanksi tegas bakal diterapkan. Mulai peringatan, denda hingga masuk penjara menanti.

Suasana ini diterapkan karena ditemukannya virus corona varian Delta (B1617.2) asal India, apalagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan virus corona varian Delta ini masuk kategori Variant of Concern (VoC) yang proses transmisinya 60 persen lebih cepat ketimbang varian Alpha dengan gejala lebih berat dan 2,5 kali lebih banyak menyerang kalangan muda.

Gubsu Eddy Rahmayadi pun mengakui virus corona varian Delta sudah terdeteksi di Sumut dan ditemukan terinfeksi pada 18 Anak Buah Kapal (ABK) yang berlabuh di Belawan. “Yang terdeteksi bukan warga Sumut. 2 ABK masih menjalani perawatan dan 16 lainnya sudah selesai isolasi. Pemprovsu juga khawatir lonjakan Covid-19 terus terjadi karena dibawa Pekerja Migran Ilegal (PMI) yang masuk melalui jalur laut dari negeri jiran Malaysia,” katanya.

Enggak usah kita bahas kota-kota di Jawa dan Bali yang lebih dulu diberlakukan PPKM darurat. Suasana Kota Medan sekarang ini bisa jadi bahan representasinya. Bayangkan, kota Medan seminggu terakhir ini bak ‘kota mati’. Semua tempat usaha non esensial diwajibkan tutup, cumak pasar tradisional dan swalayan dibenarkan beroperasi hingga pukul 8 malam, sementara lokasi makan minum hanya boleh take away atau delivery order.

Kota Medan makin mencekam manakala seluruh lampu jalan dimatikan malam hari. Tak hanya itu, petugas keamanan TNI/Polri, Satpol PP hingga perangkatkelurahan terus melakukan patroli. Kalau ada warga yang membandel langsung diberikan sanksi. Kasus terbaru, seorang warga Medan pemilik Warkop DKI di Jl. Gatot Subroto viral di medsos karena melakukan perlawanan yang berujung mendapat sanksi pidana.

***

Seakan menggambarkan kepanikan, inilah wujud pemerintahan sekarang menghadapi musuh dunia yang tak berwujud; wabah Covid-19. Sepertinya bakal menjadi bencana besar, pemerintah mengantisipasi dengan segala cara. Covid-19 diperlakukan bak musuh yang kasat mata. Sejumlah ruas jalan distop, semua pertokoan dilarang beroperasi, termasuk perkantoran dibatasi, padahal virus corona tak pernah takut dengan portal atau kegelapan malam. Mau sepi atau ramai, mau gelap atau terang, mau miskin atau kaya, mau siang atau malam, virus corona bisa menyerang siapa saja. Bak tagline minuman ringan; dimana saja, kapan saja, minumnya coca-cola, itulah virus corona.

Baca Juga:   Ekonomi Kreatif Tumbuhkan Perekonomian Masyarakat di Masa Pandemi

Antisipasi pemerintah terhadap mewabahnya Covid-19 terkesan berlebihan. Bayangkan, di sejumlah perbatasan wilayah kabupaten/kota dilakukan pemeriksaan ketat terhadap warganya. Bagi warga yang ingin melintas harus menunjukkan surat negatif Covid-19 melalui tes Rapid Antigen. Untuk penggunaan masker sudahlah, sama seperti pengguna sepeda motor harus pake helm.

Serunya, ketakutan warga masyarakat tidak menggunakan masker bukan dikarenakan takut terpapar virus corona, tapi takut tertangkap Tim Satgas Covid-19 yang bisa saja memberi sanksi denda dan pidana. Sama juga bagi pengendara sepeda motor yang menggunakan helm bukan dikarenakan takut resiko benturan dikepala akibat tabrakan, tapi dikarenakan takut kena tilang polisi jika tak memakai helm.

Di lapangan faktanya laen. Masyarakat seakan tak peduli dengan merebaknya wabah Covid-19. Kesadaran masyarakat terkesan rendah, terutama di kawasan pinggiran kota atau kabupaten yang berjauhan dengan kota besar. Mereka tetap melakukan aktifitas seperti biasa, tanpa ada rasa ketakutan dan kepanikan.

Bahkan ketika ditanya kekhawatirannya tentang wabah Covid-19, dengan nada enteng mereka selalu menjawab; “kami lebih takut kelaparan ketimbang Covid-19. Mati urusan yang Diatas, bang. Kalok kami tak kerja, tak berjualan darimana kami dapat uang. Ini semua usaha harus ditutup, kami mau makan apa. Kami bukan PNS, kerja serabutan. Lantas, siapa yang ngasi makan kami.Nunggu bantuan pemerintah, entah kapan datangnya. Kalokpun katanya bakal dikasi, entah kapan-kapan. Itupun yang kebagian orang-orang tertentu saja, sementara kami kerja hari ini untuk makan besok.”

Ya, rasanya berbanding terbalik dengan suasana di benua Eropa sana. Bayangkan, final Piala Euro 2021 antara Italia vs Inggris di Stadion Wembley London ditontonlebih 60 ribu orang, bahkan tanpa pake masker. Tak berlaku atur jarak, karena bangku stadion tak disiapkan untuk mengantisipasi virus corona. Mereka berteriak mendukung timnya. Hari itu Covid-19 diabaikan. Atau pemerintah Inggris sudah menganggap Covid-19 sama seperti wabah biasa? Cumak mereka yang bisa jawab, karena hajatan tontonan sepakbola akbar antar negara sudah bisa digelar, berarti virus corona ………………. Silahkan isi sendiri titik-titiknya.

Lantas di negeri kita cemana? Kapan segera berakhir, atau kapan kita mampu keluar dari wabah Covid ini? Menunggu vaksin massal, adakah jaminan kita bebas Covid-19? Atau, ada bisnis besar dibalik mewabahnya virus ini? Pernyataan Menko PMK dan Menko Marves yang bertolak belakang terkait perpanjangan PPKM darurat sudah memberi sinyal ada sesuatu dibalik sesuatu. Sudahlah tak usah berandai-andai. Ikuti, nikmati, karena salah becakap bisa masuk jeruji. Pak, Pening Kami, Mampuslah. Kayak gitulah keresahan warga. Itu saja.

Syahrir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here