Sabtu, Juni 6, 2020
Beranda Artikel Di Tengah Covid-19 Wartawan Harus Jadi Perhatian Pemerintah

Di Tengah Covid-19 Wartawan Harus Jadi Perhatian Pemerintah

Catatan: Marudut Nainggolan, Penasehat PWI Bonapasogit

Menghadapi Covid-19 menjadikan banyak daerah menerapkan  seperti karantina wilayah serta meminta warga harus tinggal di rumah (Stay at Home) .

Kebijakan ini diberlakukan diseontro tanah air termasuk Tapanuli Utara berdampak bagi kelompok masyarakat.

Karyawan ,pekerja harian lepas, pedagang kaki lima, parengge rengge di pasar tradisional, pengusaha kedai kopi, rumah -rumah makan, ada banyak lagi yang tak usahpun diurai satu persatu. Pun tak terlepas komunitas Wartawan(Jurnalistik) semuaya itu tidak seperti pekerja di lembaga pemerintahan walau bekerja dari rumah,gaji mereka tetap dibayarkan. Bukan mengatakan wartawan tidak bergaji, iya kalau mereka bekerja di media besar.

Wartawan bekerja dari rumah apa memang iya, Yang pasti justru seorang jurnalis harus bergerak kesana kemari untuk mendapatkan sebuah berita.

Selain mengejar berita untuk disajikan bagi pembaca,  dipandanganku dalam menjalankan aktivitas adalah mendapatkan uang biaya hidup sehari hari.

Saya tidak mengatakan persis seperti apa yang disebut dalam pepatah Batak, ” Disari manogot allangon botari “( hasil kerja pagi hari untuk kebutuhan sore) bukan seperti itu. Tetapi dipandanganku setelah ajakan untuk Stay at Home  ,pergerakan teman-teman pers agaknya lebih cendrung mengarah kepada apa kata pepatah Batak tersebut.

Tidak terlalu berlebihan ,kehidupan jurnalis dari sisi ekonomi semakin memprihatinkan ditengah Covid 19. Hidup keseharian dengan pendapatan seadanya.Tanpa bermaksud mendramatisir keadaan,  boleh jadi dalam keseharian tidak mendapatkan sesuatu yang boleh dibawa pulang untuk  diserahkan kepada istri dan anak ,kecuali mungkin sebuah berita

Tidak  terlalu maju bila aku katakan, wartawan di daerahku  Tapanuli Utara, salah satu komunitas dimana beberapa tahun belakangan justru ” terabaikan” di Bona Pasogitnya dengan ekonomi pas pasan “Ordong sana Ordong sini.(lacak sana lacak sini),dengan satu target “dapur berasap”, tidak untuk menabung.

Namun tak terpungkiri  dan fakta berbicara ada sejumlah  wartawan “emas” dikalangan oknum oknum pelaku pemerintahan, kondisi kehidupan ekonominya  berada dilevel menengah keatas,mereka jurnalis pilihan.

Naluri jurnalistik mereka menjadi terkesan luntur, mereka “diperintah”. Tetapi itu tadi,menyoal ekonomi, mereka jauh lebih mapan, itulah kelebihan mereka yang pantas diacungi jempol.

Bagi mereka ini tidak jadi soal bekerja dari rumah, karena berita-berita relis pasti sampai, endinganya ya tidak terlepas dari ekonomi, kepada mereka telah disiapkan lembaran demi lembaran penopang ekonomi bahkan bisa di tabung. Namun mereka hanya secuil dari jumlah komunitas pers yang tinggal dan bertugas di Bonapasogit Tapanuli Utara.

Para wartawan di Bona Pasogitnya  sulit berkembang. Pendapatan sehari-hari saja hanya cukup untuk biaya keseharian keluarganya.

Kehidupan para jurnalis di daerah Bona Pasogit Tapanuli Utara hanya bermodal idealisme dan semangat juang. Bekerja dengan bermodal sebuah kamera android untuk mengambil foto nara sumber dan merekam hasil wawancara obyek berita, berharap ada sesuatu yang sebenarnya tidak mencukupi.

Disaat-saat genting seperti sekarang seiring upaya pencegahan Covid-19 ,kalangan wartawan secara umum di Tapanuli Utara merupakan kelompok rakyat yang amat rapuh dari sisi ekonomi.

Sebagian besar dari teman-teman wartawan boleh jadi tidak memiliki persediaan kebutuhan hidup yang memadai untuk menjalani masa stay at home dimaksud. Tidak secara langsung dikatakan memang, tetapi dikeseharian  sinyal itu membenarkan

Amatan penulis, wartawan di Tapanuli Utara, tetap  beranjak dari rumah mencari berita untuk disajikan dimedia tempat bekerja.  Idealisme seorang wartawan selalu dikedepankan teman-teman sebagai garda terdepan melakukan peliputan menyampaikan informasi kepada masyarakat terkait Virus Corona .

Dengan alat penjaga diri seadanya  harus keluar rumah berperan menyajikan berita berita edukasi kepada masyarakat agar menaati berbagai seruan pemerintah daerah Tapanuli Utara mencegah penyebaran virus corona .

Adalah sebagai bentuk peran serta dan tanggung jawab wartawan menghadapi situasi yang tidak menentu dalam masa-masa sekarang .

Puluhan jurnalis di Tapanuli Utara yang saya kenal, justru ditengah keterpurukan ekonomi sebagai dampak Covid-19 selalu siap hidup “menderita” menjalankan tugas.

Wartawan disebut pilar ke empat, setelah eksekutif, judikatif dan legislatif dipandangan saya khususnya yang bertugas di Tapanuli Utara selalu siap untuk hidup menderita .Para jurnalis sejati ini bergerak untuk menggalang kekuatan dalam mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat.

Teman-teman ku jurnalis ditengah wabah Covid-19 tetap  bersuara lantang  hanya  memperjuangkan rakyat. Tetapi diam seribu bahasa jika bicara soal nasib-hidupnya sendiri.

Walaupun wartawan diam, janganlah beranggapan mereka kuat dan mampu bertahan tanpa makan-minum sehari-hari. Wartawan tetaplah manusia. Mereka butuh asupan makanan untuk tetap bisa hidup. Mereka juga butuh menghidupi anak-istrinya sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaannya di keluarga.

Saya tidak mengatakan pucuk pimpinan dipemerintahan Taput melupakan komunitas pers. Sebab saya tahu, daerah ini saat sekarang ini dipimpin seorang jurnalis, tidak menyebut mantan.

Pemerintah Tapanuli Utara tidak akan melupakan kalangan jurnalis sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang wajib diayomi dan dilindungi hidupnya.

Sekali lagi tidak mengatakan, pengambil kebijakan didaerah ini, terpengaruh oleh bisikan oknum-oknum tertentu, itu tidak mungkin, sebab naluri jurnalistiknya masih sangat kental.

Dalam konteks upaya Pendemi Covid-19 ,saya berkeyakinan bahwa pengambil kebijakan di Tapanuli Utara akan memberikan akses sumber ekonomi bagi masyarakat terdampak tentunya termasuk komunitas wartawan di didaerahnya.

Pengambil kebijakan didaerah saya amati begitu peka terhadap kebutuhan warganya sebagai bentuk tanggung jawab. Diharapkan kalangan jurnalis terutama dari kalangan “pendiam” wartawan, yang adalah bagian dari masyarakat  , juga butuh perlindungan karena mereka adalah rakyat  Tapanuli Utara.

Sekali lagi, ditengah situasi tidak menentu terkait Covid-19 saya masih punya harapan bahwa para wartawan secara umum di Tapanuli Utara akan menjadi perhatian pemerintah daerah.

Aku salah seorang didalamnya hanya menyuarakan, dan teman-teman tidak pernah utarakan “keresahan” itu secara langsung kepada saya. (Berbagai Sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER

‘Negeri Bertuah’ Kembali Diguncang Isu Corona, Jubir Satgas: Warga Kuala PDP, Bukan Positif Covid-19

STABAT - Realitasonline | Kabupaten Langkat yang kerap disebut dengan 'Negeri Bertuah' kembali diguncang isu corona karena salah satu warganya yang positif...

“Dicomblangin”, Harimau Sumatra di London Dibunuh Calon Pasangannya

LONDON - RealitasOnline | Seekor harimau Sumatra mati di Kebun Binatang London. Harimau betina bernama Melati itu dianiaya calon pasangannya, harimau jantan...

“Jemput Bola” Rekam E-KTP, Disdukcapil Pakpak Bharat Terima Penghargaan Gubsu

PAKPAK BHARAT - Realitasonline | Untuk memenuhi persyaratan bagi warga Pakpak Bharat yang sudah berusia 17 tahun atau yang telah kawin untuk...

“Mardua Holong” Tampil Apik Pada Perayaan HBA Kejari Simalungun

SIMALUNGUN - Realitasonline | Keluarga besar  Kejari Simalungun merayakan HBA (Hari Bhakti Adhyaksa) ke 59 penuh suka cita bertempat di Hotel Horizon...

BERITA TERBARU

Wiwiek Sisto Widayat: Akibat Covid-19 Diperkirakan Perekonomian Sumut Melemah di Triwulan II

MEDAN - Realitasonline.id | Bank Indonesia memprediksikan perekonomian Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan II tahun 2020 ini akan mencapai titik terendahnya, yang...

Warga Resah, Abdya Masuk Zona Merah Covid-19

BLANGPIDIE - Realitasonline | Pasca ditetapkannya Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) bersama delapan kabupaten/kota lainnya di Provinsi Aceh berstatus zona merah corona...

Kejari Paluta Tindaklanjuti Laporan Dugaan Penyelewengan ADD dan DD Aek Haruaya

PALUTA - Realitasonline | Adanya dugaan penyalahgunaan pengelolaan Anggaran Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2019, Kepala Desa Aek...

Dukungan Pelaku Pariwisata Parapat New Normal di Simalungun

SIMALUNGUN - Realitasonline | Pasca dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan simulasi pelaksanaan New Normal di Kabupaten Simalungun, khusus daerah wisata Parapat, 31/05/2020 yang...