Melawan Radikalisme Dengan Dakwah di UMN Al Washliyah

0

Oleh: Ayu Kesuma Ningtyas

Sinar matahari siang itu sangat terik. Suhu cuaca cukup panas. Syukurnya, udara sejuk dari alat pendingin ruangan masjid Ismail Banda mampu mengusir hawa panas pada siang yang terik itu.

Terlihat dari dalam ruangan masjid, jemaah laki-laki dan perempuan tampak masih berada di tempatnya masing-masing dengan duduk bersila membentuk lingkaran. Padahal, imam sudah menyelesaikan salat Zuhur.

Ternyata, mereka sedang menunggu. Karena, sebentar lagi ada pemateri dari salah seorang jemaah yang akan menyampaikan ceramah selama tujuh menit.

Hari itu Rabu (4/11/2020) di Masjid Ismail Banda yang berada di lantai 2 kampus Arsyad Lubis Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah Jalan Garu II Kelurahan Harjosari I Kecamatan Medan Amplas Kota Medan, sedang melaksanakan bina mental mahasiswa (bintalma) yang dikemas dalam bentuk ceramah.

Ceramah kali ini disampaikan oleh Anggi Tanjung, mahasiswa semester 7 Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) program studi Bahasa Indonesia. Dia menyampaikan materi tentang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semesta).

Mengutip isi ceramahnya, Anggi Tanjung menyebutkan prasa ini cukup populer di telinga umat Islam, dan sering dikaitkan jika muncul aksi radikalisme terorisme, atau kekerasan yang bernuansa keagamaan. Rahmatan Lil Alamin seharusnya dimaknai Islam yang merangkul atau mengayomi semesta dan segala isinya, tanpa kecuali. Untuk mencegah terjadinya pemahaman dan implementasinya yang ngawur terhadap suatu prinsip  umum dan fleksibel, umumnya dibingkai dalam acuan yang jelas yaitu syariat. Sikap dasar yang mestinya menjadi acuan utama dalam memperlakukan syariat adalah ketaatan, bukan analisa dan intepretasi. Tiap pemahaman dasar terkait suatu prinsip Islam tidak boleh dipaksa-paksakan untuk diterima oleh komunitas selain Islam. Sebab unsur pemaksaan itu sendiri bertentangan dengan prinsip Rahmatan Lil Alamin (merangkul atau mengayomi). Hal ini akan menjadi ranahnya dakwah. Sebab, dakwah adalah proses menyakinkan bukan pemaksaan, tutup Anggi Tanjung mengakhiri ceramahnya.

Materi ceramah yang disusun sangat apik ini mendapat atensi besar dari Wakil Rektor 3, Dr Anwar Sadat MHum. Dia menyebutkan pemateri bisa menangkap issu yang berkembang saat ini dan waktunya pas untuk disampaikan di tengah kondisi bangsa, bahkan dunia yang sedang menghadapi pandemi Covid-19. Sementara di dalam negeri sendiri khususnya Provinsi Sumatera Utara tak luput dari aksi demonstrasi besar yang berujung anarkis. “Saya meloloskan konten materi ini, karena sesuai dengan kondisi kekinian,” ujar Anwar Sadat.

Seiring dengan tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk menciptakan suasana kampus yang dinamis  agar terbentuk sikap mental dan disiplin mahasiswa, terbina sikap ilmiah, mempunyai keahlian yang mengarah pada profesionalisme sesuai disiplin ilmunya, berwawasan kemasyarakatan, maka sangat diperlukan satu wadah bagi mahasiswa yang digunakan untuk melatih pembinaan mental mahasiswa di lingkungan kampus. Atas dasar ini maka lahir bintalma yang hingga sekarang telah berjalan selama satu tahun.

Bintalma, kata Anwar Sadat, diselenggarakan oleh Biro Administrasi Kemahasiswaan (BAK), wakil dekan bidang kemahasiswaan, ketua program studi, presiden mahasiswa (Pema) universitas. Pelaksanaannya seminggu sekali setiap Rabu usai salat Zuhur. Selama ceramah bintalma tidak ada tanya jawab. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu jam perkuliahan atau tugas-tugas lainnya.

Pemateri bintalma adalah mahasiswa yang mendaftarkan diri secara sukarela, atau mahasiswa utusan program studi secara bergiliran, atau mahasiswa dari organisasi mahasiswa (Ormawa) secara bergiliran. Sedangkan pesertanya adalah Civitas Akademika yang ikut melaksanakan salat Zuhur berjemaah, dan pengurus Ormawa.

Konten materi diseleksi oleh dekan bersama ketua program studi, pimpinan Ormawa masing-masing dan BAK, terang Anwar Sadat. Kontennya disesuaikan dengan issu yang sedang berkembang atau issu strategis mencakup mental, keagamaan dan pengetahuan lainnya.

Pola Pikir

Sebelum muncul pandemi Covid-19, mahasiswa datang ke kampus untuk kuliah tatap muka, mendengarkan ceramah dosen dan mempelajari buku ajar yang diberikannya. Sekarang, kehidupan kampus sudah sangat jauh berubah. Kuliah dilakukan dengan sistem dalam jaringan (daring), ceramah tidak lagi diberikan oleh dosen, tetapi fungsi dosen berubah menjadi pembimbing. Buku ajar tidak lagi menjadi sumber ilmu pengetahuan, posisinya digantikan oleh Google yang menjadi sumber informasi.

Derasnya arus informasi dari dunia maya ini akhirnya bermuara pada kekhawatiran terhadap kaum mileneal bahwa mereka akan mudah terpapar paham radikalisme. Jika tidak diantisipasi sejak dini, tanpa disadari lambat laun paham radikalisme mulai menyusup ke dalam kalangan kampus. Potensi ini harus diwaspadai sedini mungkin.

Selain itu situasi yang tidak pasti di tengah pandemi Covid-19 telah memicu munculnya aksi radikalisme dalam bentuk demo mahasiswa yang disebabkan oleh kekecewaan, ketakutan, kesenjangan ekonomi,  keresahan dan stress.

“Kami berprinsip mahasiswa di kampus ini harus disterilkan dari paham-paham radikalisme ini,” kata Anwar Sadat.

Bagaimana caranya?  Tahap awal, mahasiswa diminta aktif dalam setiap kegiatan kampus, seperti olahraga, kesenian, penelitian, lingkungan hidup, pertanian hidroponik, kewirausahaan kampus, relawan pajak, atau pengabidan kepada masyarakat. Dalam kegiatan ini mahasiswa diharapkan akan bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Di sini mereka nantinya akan belajar bersikap toleransi, urai wakil rektor 3 ini.

Setelah itu kampus menyiapkan wadah pembinaan mahasiswa untuk menampung proses berpikir ilmiah, berkreatifitas, kebebasan berpendapat, dan dakwah tadi untuk menyakinkan orang-orang berbuat kebaikan dan menjauhi tindakan-tindakan merugikan, jelasnya.

“Wadah ini kita namakan bintalma. Sarana mahasiswa untuk menyampaikan buah pikirannya dalam bentuk ceramah dengan metode dakwah,”  katanya. Melalui bintalma ini kampus sudah membentengi mahasiswanya dari pihak-pihak yang ingin meracuni pikiran mereka. Di sisi lain, bintalma akan menjadi wadah yang akan memproses kedewasaan berpikir mahasiswa dan rasa kepedulian mereka terhadap sesama serta sikap penerimaan adanya perbedaan.

Melalui bintalma secara tidak langsung pola pikir mahasiswa akan berubah. Dari yang awalnya pasif, kemudian berubah menjadi ikut ambil peran. Mereka diajak berperan untuk meyakinkan rekan sebayanya agar bijak menggunakan media sosial. Jangan mudah meneruskan video dan foto yang dibagikan di chat grup yang belum jelas kebenarannya, melawan kebencian dengan kebaikan, menerima keberagaman dengan berbagai latar belakang, menyampaikan pesan-pesan perdamaian, peduli terhadap tetangga dan lingkungan. Mereka juga akan mengajak temannya belajar pengetahuan agama secara kritis dan proaktif.

Sejatinya, tidak hanya pola pikir mahasiswa saja yang berubah, tapi prilaku mereka juga ikut berubah dengan sendirinya. Ini ditandai dengan beberapa prestasi yang diraih mahasiswa UMN Al Washliyah baik di tingkat regional dan nasional.   

Penghargaan dan Hukuman

Terciptanya kondisi kampus yang kondusif tidak terlepas dari regulasi yang dikeluarkan Rektor UMN Al Washliyah Dr KRT H Hardi Mulyono K Surbakti. Regulasi yang ditetapkan sebagai kebijakan rektor itu ampuh menghempang bibit-bibit radikalisme yang dimuculkan dari demo mahasiswa dan provokasi mahasiswa lama ke mahasiswa baru.

Mengingat masa dua tahun silam, kampus ini acap kali digoyang demo mahasiswa yang menuntut penurunan uang kuliah, kelonggaran aturan bagi mahasiswa lama, hingga tuntutan pengunduran diri rektor dari jabatannya.

Demo mahasiswa dilakukan di kampus utama dengan membakar ban. Meski tidak sampai berujung pada aksi anarkis, namun demo itu sudah mengganggu kelancaran dan ketertiban kampus.

Anwar Sadat memberikan penghargaan kepada mahasiswa betprestasi. (realitasonline.id/Ayu Kesuma Ningtyas)

Tindakan provokasi juga dilakukan mahasiswa senior kepada adik-adik kelas, seperti ajakan tidak masuk kuliah. Bahkan, ada orangtua yang rutin membayar uang kuliah tetapi anaknya tidak pernah masuk kuliah.

Akhirnya, rektor mengambil kebijakan tidak populis yakni mengeluarkan regulasi untuk melakukan drop out (DO) kepada mahasiswa lama di atas empat tahun, menaikan uang kuliah dan memberlakukan denda bagi mahasiswa yang telat bayar uang kuliah tanpa alasan jelas.

Imbas dari kebijakan ini seribuan lebih mahasiswa stambuk lama di DO. Meski mendapat protes besar-besaran, rektor tetap bersikukuh dengan berpegang pada aturan Permendikbud sebagai dasar hukumnya. Karena berbagai kelonggaran, seperti uang kuliah, absensi, skripsi, dan surat peringatan, tetap tidak diindahkan mereka.

Meski uang kuliah naik, Rektor Hardi Mulyono mengeluarkan paket insentif, yakni keringanan uang kuliah yang bisa dicicil hingga empat kali, gratis uang pendaftaran bagi mahasiswa baru, bantuan kuota internet, dan beasiswa bagi mahasiswa yang terputus uang kuliahnya. Dana beasiswa ini dikumpulkan dari zakat tenaga kependidikan dan staf pendidikan. Hasilnya, dalam setahun terkumpul Rp 100 juta.

“Saya berprinsip tidak ada mahasiswa yang tidak lulus. Seluruhnya harus jadi sarjana,” kata rektor yang juga mengeluarkan paket bantuan pendidikan bagi dosen untuk kuliah S-2 dan S-3. Hardi juga mengeluarkan paket hibah Rp 1 miliar untuk bidang penelitian bagi dosen dan mahasiswa dan pengabdian kepada masyarakat (PKM).

Kenaikan uang kuliah, dijelaskan Hardi, digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana kampus. Seperti perluasan lahan parkir untuk kenderaan roda dua, kantin yang memadai, memperindah aula terbuka untuk menampung kegiatan mahasiswa, penambahan laboratorium (lab). Sekarang sudah ada 9 lab, yakni lab farmasi, lab bahasa, lab micro teaching, dan membangun gedung perkuliahan baru untuk mahasiswa magister.

Hingga saat ini, kata rektor,  kampus yang dipimpinnya belum ada ditemukan dosen dan mahasiswa yang terpapar paham radikalisme terorisme. Jika pun ada, kampus telah menyiapkan statuta bagi oknum di lingkungan kampus yang terindikasi terpapar paham radikalisme. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain, melakukan pembinaan, mengajak untuk meninggalkan paham tersebut serta kembali ke ideologi Pancasila. Jika tetap tidak berubah akan diberi sanksi lebih berat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Misalnya, untuk dosen akan ada penundaan kenaikan pangkat, diberhentikan dari jabatan, hingga sanksi yang lebih berat yakni diberhentikan dengan tidak hormat.   

Raih Prestasi

Dampak dari kebijakan rektor yang tidak populis tersebut disertai perubahan pola pikir mahasiswa, kampus ini akhirnya banyak meraih prestasi baik di tingkat regional dan nasional.

Tahun 2019, UMN Al Washliyah berada pada klaster utama sebagai Perguruan Tinggi (PT) berbasis kinerja penelitian di tingkat nasional, dan kinerja Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) meraih predikat sangat bagus. Tahun 2020, dua mahasiswa Farmasi dan FKIP memenangkan PKM Kemendikbud Dikti. Tahun yang sama 3 mahasiswa Farmasi memenangkan karya ilmiah tingkat provinsi, dua mahasiswa Farmasi juga meraih penghargaan pemanfaatan limbah menjadi bahan obat di tingkat nasional. Fakultas Farmasi lagi-lagi meraih juara 3 nasional, dan berbagai penghargaan lainnya.

Ma’aruf Amin saat menghadiri wisuda UMN Al Washliyah. (Ist)

Jumlah mahasiswanya dari tahun ke tahun terus bertambah. Data dari laporan BAK menunjukkan grafik angka penerimaan mahasiswa baru terus meningkat. Demikian pula dengan mahasiswa S-2. Kampus ini memiliki akreditasi institusi B, mengelola 6 fakultas dengan 17 prgram studi yang terkareditasi B, 4 program magister dan satu program pendidikan profesi.

Baru-baru ini Wapres RI Ma’aruf Amin hadir di kampus ini sebagai keynote speaker pada acara wisuda. Wapres menyampaikan penghargaannya dan mengingatkan agar UMN Al Washliyah sebagai PT berciri khas agama mampu merawat nilai-nilai yang merupakan hakikat agama dan ilmu pengetahuan, yaitu nilai untuk kemanusiaan dan permasalahan kemanusiaan.

Nilai kemanusiaan terejawantahkan pada komitmen kebangsaan, toleran, menghormati kearifan budaya lokal dan beragama tanpa kekerasan, tutup Wapres. ***

(Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba jurnalistik BNPT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here