Jumat, Juni 18, 2021
BerandaArtikelTerbongkar Akal Bulus Petugas Kimia Farma, Gunakan Alkes Bekas Rapid Test Antigen

Terbongkar Akal Bulus Petugas Kimia Farma, Gunakan Alkes Bekas Rapid Test Antigen

Oleh : H. Irwansyah

Aksi dramatis yang dilakukan aparat Kepolisian Dirkrimsus Polisi Daerah Sumatera Utara (Poldasu) membuat publik merasa terhenyak sekaligus apresiasi dengan membongkar perbuatan curang yang dilakukan oknum petugas Kimia Farma Diagnostika atas tindakannya menggunakan alat layanan rapid test antigen yang sudah bekas pakai kepada penumpang yang hendak terbang.

Dengan menyaru layaknya calon penumpang pesawat terbang yang ingin memeriksa diri untuk mendapatpan hasil rapid test antigen, tim aparat dari Dirkrimsus Poldasu dengan gemilang menggulung oknum karyawan Kimia Farma yang berbuat curang dengan menggunakan alat pemeriksa rapid antigen bekas pakai. Kejadian pukul 16.45 Wib di lantai mezzanine Terminal Bandara Kualanamu Deli Serdang, Selasa (27/4).

Terkuaknya kasus ini berawal dari banyaknya keluhan masyarakat yang tersampai ke aparat penegak hukum. Yang lebih terkejut lagi perbuatan mereka lakukan ditempat yang notabene adalah bandara kelas dunia, di Kualanamu International Airport (KNIA).

Sebagai area publik, bandara Kualanamu yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara khususnya Deli Serdang. Area publik yang mempunyai tingkat keamanan dan kenyamanan yang tinggi, sekarang pandangan orang pasti tertuju kesana. Kenapa hal in bisai sampai terjadi ?

Salah satu persyaratan untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan moda transportasi udara dimasa pandemi Covid-19 saat ini, calon penumpang harus memiliki surat tanda berbadan sehat alias bebas dari terjangkit corona virus-19 , itulah yang dinamakan hasil rapid test antigen atau swabs.

Alat kesehatan yang digunakan untuk memeriksa seseorang apakah positif atau negatif terjangkit Covid-19 memiliki satu paket rangkaian dalam satu kemasan kotak. Dari paparan temu pers (28/4) klarifikasi terkait pemakaian alkes bekas di auditorium perkantoran AP II, salah seorang tim kesehatan Kimia Farma Diaknostika menerangkan, dalam satu kotak alkes rapid test antigen merek “RightSign” berisi antara lain, test cassetles, dropper tips, workstation, extraction reagent, starile swabs, extraction tubes, dan pakcage insert.

Satu diantaranya yang digunakan secara berulang oleh oknum petugas Kimia Farma diduga adalah starile swabs. Alat inilah yang dimasukkan ke lubang hidung untuk mengambil sampel cairan yang ada didalam hidung. Seharusnya dipakai hanya untuk sekali saja, namun dengan akal bulusnya dipakai kembali untuk memeriksa orang berikutnya dengan mencuci alat tersebut terlebih dahulu dan dimasukkan ke dalam kemasan, seolah masih baru dan steril.

Perbuatan inilah sebagai tindakan kecerobohan yang berbahaya. Melakukan perbuatan yang sudah melewati batas normal. Dan ini masuk kategori kejahatan luar biasa. Betapa tidak, oknum tersebut menciderai hajat hidup orang banyak dibidang kesehatan. Seharusnya masyarakat terlindungi dengan adanya pelayanan kesehatan yang mumpuni dan bertanggung jawab dari perusahaan pelat merah yang dipercaya negara dalam bentuk ketahanan kesehatan masyarakat, namun malah mendapat ancaman yang serius dari perbuatan tercela oknum yang bekerja dibidang kesehatan ini.

Bisa saja orang sehat dibilang positif virus Covid-19 Dengan alasan orang tanpa gejala (OTG). Inikan bentuk akal – akalan yang sengaja dibuat disinyalir untuk mengambil keuntungan sepihak. Apalagi jika sebaliknya, orang yang benar sedang terjangkit Covid-19 dinyatakan negatif oleh si oknum tersebut. Sungguh berbahaya bisa saja ini menularkan kepada orang yang sehat sedang dalam perjalanan dalam satu pesawat.

Masyarakat sebenarnya sudah sulit dimasa pandemi ini. Untuk terbang saja harus mengurus segala tetek bengek persaratan yang harus dipenuhi. Karena memang suatu keharusan dimana masyarakat harus berperan serta untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Artinya jangan sampai karena ingin lekas sampai ketujuan malah membuat cluster baru Covid-19.

Bandara Kualanamu teranyar menjadi sorotan publik lantaran dilanda kasus yang mamalukan sekaligus menghebohkan. Pelayanan rapit test antigen untuk calon penumpang saat ini dialihkan ke area drive thru yang berlokasi dekat parkir sektor A. Setelah Plt EGM Angkasa Pura II Kualanamu Agoes Soepriyanto dengan sigap menutup area layanan rapid test di lantai mezzanine terminal Bandara Kualanamu Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Kejadian yang meresahkan masyarakat ini seharusnya tidak terjadi, seandainya dari awal pihak pengelola Bandara Kualanamu dan Kantor Pelayanan Kesehatan Pelabuhan (KKP) selalu awas dalam berkoordinasi dengan Kimia Farma Diagnostika selaku pelaksana layanan rapit test antigen.

Kan sudah menjadi komitmen Angkasa Pura II Kualanamu bahwa dimasa pandemi covid -19 sekarang ini protokol kesehatan (prokes) menjadi faktor utama untuk dijalankan dengan ketat di Bandara yang menjadi ikon Deli Serdang. Tidak saja diperuntukkan bagi seseorang yang akan terbang tapi juga bagi petugas yang berwenang yang mengeluarkan hasil uji klinis terkait rapid test antigent harus diberlakukan secara ketat juga, utamanya dalam pengawasan pihak berwenang.

Wajah Bandara tercinta Kualanamu Internasional (KNIA) sudah kadung tercoreng akibat ulah oknum yang tidak beranggung jawab. Management AP II merasa kecolongan atas kejadian ini. Sudah waktunya adakan langkah pembenahan dan evaluasi secara besar – besaran di tubuh AP II sendiri dalam konteks seleksi dalam pengawasan khususnya terhadap mitra kerja.
Pelaksana layanan rapid test drive thru harus menjadi perhatian serius untuk terus diawasi dengan ketat.

Tak salah dan tidak sampai mengurangi kewibawaan jika Management AP II Kualanamu melalui EGM misalnya memberikan statement kata maaf kepada khalayak atas peristiwa yang sudah terjadi terkait ulah busuk oknum karyawan Kimia Farma Diaknostika (KFD) di Bandara Kualanamu.
Ini untuk atas nama baik Bandara Kualanamu yang menjadi fokus perhatian masyarakat luas.

Tak dipungkiri juga kecaman demi kecaman datang bertubi – tubi dari berbagai pihak tertuju kepada Kimia Farma Diagnostika, tak sedikit juga ditujukan ke pihak pengelola Bandara Kualanamu sendiri, karena terjadi di lingkungan bandara KNIA. Harus diusut dengan tuntas kejadian ini sampai diketahui siapa aktor intelektual yang sebenarnya. Adakan evaluasi menyeluruh kesemua pihak terkait. Begitulah besarnya harapan publik agar kejadian ini tidak berulang kembali.

Memang klarifikasi disampaikan Dirut KFD Adil Fadilah Bulqini, pihaknya mendukung penuh kepada aparat Dirkrimsus Poldasu untuk mengusut tuntas dalam proses hukum oknum karyawannya yang telah berbuat menyalahi aturan perusahaan.

Hukuman berat telah menanti mereka apabila terbukti benar bersalah dalam proses pembuktian diperadilan nantinya. Kata Dirut Adil Fadilah Bulqini, kami akan memecat mereka apabila pengadilan telah memutuskan mereka bersalah.

Namun publik masih menyayangkan sikap Dirut KFD Adil F Bulqini yang tidak mau meminta maaf kepada masyarakat maupun kepada pengelola Bandara Kualanamu. Apalah salahnya seorang Adil Bulqini mengeluarkan pernyataan “permintaan maaf” atas perbuatan oknum anggotanya yang telah merusak nama baik Kimia Farma juga merusak nama baik Bandara Kualanamu.

Dengan enteng dia mengatakan enggan untuk minta maaf karena belum terbukti benar kesalahan oknum karyawannya. Ditinjau dari kode etik hukum memang iya, seseorang yang melakukan pelanggaran pidana belum bisa dikatakan bersalah jika pengadilan belum memutuskan orang itu bersalah. Inilah yang dikatakan azas praduga tak bersalah.

Tapi seharusnya seorang Direktur Utama seharusnya mempunyai rasa empati dan sensetifitas yang tinggi terhadap apa yang terjadi ditengah masyarakat. Bahwa publik merasa telah dikhianati, disakiti atas perbuatan oknum anggotanya yang keji atas kepentingan hajat hidup orang banyak. Apalagi ditengah wabah covid -19 yang sedang melanda tanah air, masyarakat sudah susah jangan ditambah susah lagi, tentunya sebagai seorang pimpinan harus merasa malu dan ikut bersalah atas tindakan oknum karyawannya yang tidak terpuji.

Kelima oknum karyawan Kimia Farma Diagnostika (KFD) dari yang sebelumnya tujuh orang yang diamankan kini telah ditetapkan menjadi tersangka oleh tim penyidik Kepolisian Poldasu. Semua kalangan berharap agar penegak hukum benar – benar menindak dengan hukuman berat dan mungusut tuntas atas peristiwa perbuatan kejahatan luar biasa yang dilakukan kelima oknum karyawan KFD ini.

Dan warning datang dari Jaksa Agung Burhanuddin, dia memerintahkan jajarannya agar menerapkan pasal pidana dengan ancaman hukuman maksimal ketika melakukan penuntutan terhadap para pelanggar protokol kesehatan (prokes). Kejahatan kelima oknum ini disinyalir bisa masuk dalam kategori pelanggar prokes, apalagi kelimanya sebagai petugas pelaksana pelayanan prokes. **

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER

BERITA TERBARU