Catatan Senin-Kamis; The Kitchen of Asia

0

KEREN…, dapur Asia, kalok di­inggriskan The Kitchen of Asia. Medan mau dijadikan itu. Lokasinya di kawasan Kesawan Jl. Ahmad Yani. Angan2nya disitu bakal dijual aneka kuliner lokal, nasional sampe kelas Asia. Luar biasa memang, 2 bulan jabat walikota, Bobby langsung tancap gas. Dia agaknya paham betul kekhasan kota Medan yang dipuji kulinernya hanya dengan 2 kata; enak dan enak kali.

Mau makan apa saja ada disini. Sate Padang, enggak ada apa2nya sate Mak Syukur di Padang Panjang. Mau ngopi gitu jugak. Di semua sudut jalan di Medan ada tempat ngopi. Mulai warung kopi kelas kampung sampe kopi yang diolah barista. Pokoknya puaslah. Durian apalagi. Orang luar cumak tau Ucok Durian paling top, padahal di Medan nggak ada pohon durian, yang ada cumak Kampung Durian, kawasan pemukiman padat penduduk. Buahnya pun dikirim dari Sidikalang, Sibolga, bahkan dari Jambi, Sumbar hingga Lampung, tapi tetap dianggap durian Medan. Gitu juga kue bika Ambon, enggak ada hubungannya dengan Ambon tapi dianggap kue asli Medan, jugak teri nasi kata orang luar teri Medan, padahal terinya dari Sibolga, termasuk pisang barangan dibilang pisang Medan, padahal jangankan kebon, batangnyapun enggak ada di Medan. Dan banyak lagi yang di Medan jadi favorit pendatang. Pokoknya hebatlah Medan.

Sekarang fakta hebat kuliner Medan mau dikemas secara profesional. Aku bangga aja, soalnya ada ide kreatif menantu Jokowi ini mengimbangi Malioboro di Jogja maupun Braga Bandung dengan jualan kota tua. Sebagai pembanding untuk Bobby, waktu Medan dipimpin Bang Dillah, Kesawan ini udah duluan diolahnya dikasi nama Kesawan Square, tapi gagal entah karena apa.

Pertanyaannya, kenapa musti di Kesawan? Koq enggak di gedung tua bekas supermarket pertama Het Warenhuis (Toko Serba Ada) di simpang Jl. A. Yani VII – Jl. Hindu? Kan itu udah dikuasai Pemko. Takut dibilang ‘nyuri’ ide Ahyar walikota terdahulu yang notabene rival Bobby saat kontestasi pilkada kemaren? Saranku, lupakan itu adinda Bobby. Jika ada yang baik dari Ahyar teruskan. Utamanya adalah selamatkan aset Pemko yang banyak dikuasai orang.

Padahal, kalok diolah gedung Warenhuis itu, pasti dipuji orang. Soalnya di kawasan itu banyak kali gedung tua yang kosong berumur lebih 100 tahun bisa diolah macam2. Gedung dipugar, dikembalikan desain khas Eropanya. Terus ditata, pedagang bisa jualan permanen, enggak ‘misbar’ (gerimis bubar) karena luasnya hampir 2 ribu meter. Jadinya, kawasan Kesawan tetap terintegrasi dengan Dapur Asia, tinggal pembenahan kawasan pedestrian (pejalan kaki). Mau nongkrong di Restoran Tip Top (1934) yang awalnya di Jl. Pandu dengan nama Beschuit en Banketbakkery (Toko Roti) “Jang Kie” (1929), silahkan. Atau foto2 di rumah Tjong A Fie yang legendaris, monggo. Pokoknya mantaplah, semua kawasan itu terkoneksi sampai ke Lapangan Merdeka.

Kalau sudah dibenahi tempatnya, diseleksi jugak pedagang kulinernya Pak Wali, termasuk apa yang dijual. Jangan pulak macam di Ramadan Fair kemaren, karena ini gawenya Pemko yang dapat ancak hampir semua pegawe, atau koleganya.

Boleh jualan para pedagang musiman untuk bantu UMKM, tapi dibuat klasternya. Yang khas di blok A, B dan seterusnya, yang laennya untuk pedagang kecil. Pokoknya jangan macam pasar malamlah. Yang dijual cumak maenan anak2, jilbab sama makanan anak onces. Satu jual bakso, sederetan jual bakso semua. Gitu jugak jual minuman, jus jeruk sama manis dingin aja. Disini perlunya peran dinas terkait buat pembinaan.

*****

Diatas cerita dapur Asia, udah mantap. Mau kita bahas dampaknya. Sekarangkan sedang diberlakukan PPKM Mikro. Mendagri, Satgas Covid, Gubsu udah buat aturan pembatasan, tapi koq Walikota buat tempat ngumpulin orang. Padahal belum dicabut himbauan AYOK DIRUMAH AJA, dan terlalu beresiko ngajak AYOK NONGKRONG DI KESAWAN.

Memang dari sisi ekonomi ide Pak Wali bantu UMKM bagus, cumak resiko penyebaran Covid-19 rawan. Ini sangat dilematis. Padahal mulai Presiden, Gubsu, Satgas sampe Walikota Bobby sendiri selalu bilang hindari kerumunan biar virus enggak nyebar. Koq malah sekarang dibukak pulak tempat nongkrong dalam situasi macam gini. Serunya, Jubir Satgas Covid-19 Medan, Mardohar Tambunan kepada media berkilah keramaian di Kesawan tanggal 24/4 kemaren bukan kerumunan, tapi banyak manusia disitu. Ha…ha..ha… pening jugak mbahasnya. Kerumunan dan keramaian untuk manusia, bos, cumak posisi manusianya tidak beraturan. Yang teratur itu waktu upacara atau ngantri nunggu bantuan uang BLT di bank. Kalok yang di Kesawan kemaren itu enggak bisa disamakan. Masyarakat mau nonton hiburan, kek. Jajan, nongkrong atau cumak cuci mata, terserah. Jadi sukak2 mereka beraktifitas. Ngarang aja si Tambunan ini, tapi taulah kita maksudnya.

Terlepas dari semua itu, agaknya Walikota Bobby perlu mengevaluasi. Jangan pulak angan2 tagline kota Medan jadi The Kitchen of Asia berubah jadi The Kitchen of Corona. Ini harus jadi perhatian bersama. Sebagai orang muda Bobby boleh punya semangat, kreatifitas, inovasi dan inisiatif tinggi, tapi jangan berbenturan dengan kebijakan mertuanya yang ingin menekan penyebaran Covid-19. Karena seketat apapun kita melakukan pembatasan, tidak ada jaminan virus Corona bisa kita hindari.

Ini virus, bos, enggak nampak wujudnya. Enggak pulak virus ini bisa milih2. Enggak ada pulak yang bisa jamin mereka2 yang nongkrong di Kesawan aman. Harusnya Pak Wali yang masih muda dan ganteng ini lebih mikir kesehatan warga. Buat warga Medan yakin anda layak memimpin kota ini. Sebetulnya, udah bagus gebrakan awal beresi paret supaya enggak banjir, bongkar bangunan enggak berizin. Tambahlah bagusin jalan rusak, atau sekalian benahi pajak Sambu, Sukarame dan yang lain.

Malah lebih bagus lobi pusat supaya anak2 bisa masuk sekolah lagi. Gantian seminggu sekali pun jadi. Soalnya, belajar daring udah setahun lebih ini bukan buat anak jadi pintar, malah makin bodoh dan malas. Dulu awak senggak anak megang hp, sekarang udah enggak bisa, harus punya kata guru, termasuk kuotanya musti belik. Sakitnya belajar enggak lebih 1 jam, lebihnya sampe tengah malam terus digenggam anak sambil maen game. Ampunlah, udah pening kepala para ortu sekarang Pak Wali. Belajar online sukak2 hati sekolah, tapi uang SPP terus ditagih. Padahal anak mau dimasukkan ke Akabri, tapi kerjanya makan tidur, maen HP. Apa enggak buncit perutnya. Hajab, bah……!!!!

Ya…..beginilah, kompleksitas masalah ini sedang kita hadapi. Pak Wali musti tau itu. Seorang pemimpin bukan hanya harus cekatan, utamanya adalah bijaksana dalam mengambil keputusan. Ide bagus, semangat oke, cumak momentumnya yang kurang pas. Momentum bukan harus cepat, tapi kecermatan jauh lebih tepat. Dipikir lagi Pak Wali, sinkronkan dengan jargon Ini Medan, Bung. Jangan soor sendiri. Itu saja.

*Syahrir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here