Senin, Agustus 10, 2020
Beranda Hiburan Gaya Hidup Sembahyang Tebu Khas Hokkian

Sembahyang Tebu Khas Hokkian

MEDAN – Realitasonline | Dalam budaya Tionghoa , selain common culture dan common tradition ada juga unsur tradisi yang ditafsirkan berbeda oleh orang Tionghoa itu sendiri. Sebagai contoh adalah pemakaian tebu pada saat sembahyang kepada Thian/Tuhan. 

Tradisi ini hanya dilakoni oleh orang Hokkian atau Minnan pada umumnya. Sedangkan orang Hakka tidak menjalani tradisi ini. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan sejarah maupun legenda lokal dan pilar-pilar yang mendasari lahirnya tradisi tersebut seperti tebu yang dikaitkan dengan bencana peperangan.

Menjelang pergantian masa dari dinasti Ming ke dinasti Qing, Ming di utara memang roboh tetapi cabang klan Zhu di selatan Tiongkok atau Ming Selatan masih ada untuk melakukan perlawanan tetapi roboh satu persatu . 

Zhu Yousong (1607-1646) aka Pangeran Fu melanjutkan kepemimpinan kaisar Ming terakhir yakni kaisar Ming Sizong (Chongzhen), dengan menjadi kaisar Ming Anzong (Hongguang, 1645-1646).  Dia mendirikan pemerintahan baru disejumlah kota di wilayah selatan , tidak saja Nanjing tetapi juga termasuk Fuzhou dan Jinmen di Provinsi Fujian. 

Di tahun 1645, Dodo (1614-1649) memimpin pasukan Manchu dan bergerak cepat untuk merebut Suzhou dan Yangzhou. Kaisar Ming Anzong melarikan diri ke Wuhu tetapi akhirnya tertangkap dan dikirim ke Beijing untuk dieksekusi. 

Zhu Yujian  (1602-1646) aka  pangeran Tang sempat kabur dari Nanjing dan menyelamatkan diri ke Hangzhou dan menjadi kaisar Ming Shaozong (Longwu , 1645-1646) di Fuzhou – Fujian yang didukung oleh klan Zheng , yang dipimpin oleh Zheng Zhilong yang merupakan ayah dari Zheng Sen (Zheng Chenggong , Koxinga). 

Karena itulah provinsi Fujian menjadi sasaran serangan Manchu berikutnya. Di musim panas tahun 1646 pasukan Qing menyerang Fujian. Zheng Zhilong menyerah sementara Zheng anaknya , Zheng Chenggong mundur ke kawasan pantai untuk memimpin rakyat untuk melanjutkan perlawanan.

Ketika pasukan Manchu memburu Zheng Chenggong dan memaksakan pemperlakuan rambut bergaya Manchu sebagai , rakyat Minnan sempat menolak dan juga  lari menyelamatkan diri memasuki perkebunan tebu. Dan tebu-tebu itulah yang melindungi nyawa rakyat.

Setelah keadaan aman , rakyat Minnan keluar dari perkebunan tebu dan bertepatan dengan hari kesembilan bulan pertama. Mereka menghaturkan rasa sukur kepada Thian dengan upacara sembahyang yang disebut sebagai Pai Thni-kong atau Keng Thni-kong (Jing Tiangong) sebagai kamuflase terhadap pemerintah baru Qing.  Mereka menggunakan sepasang tebu di meja sembahyang maupun pada upacara sembahyang lainnya. 

Tradisi ini terus bertahan dikalangan diaspora Tionghoa yang berasal dari Fujian di Asia Tenggara. Peneliti DeBernardi berpandangan bahwa orang Tionghoa di Malaka , tebu merupakan ingatan kolektif orang Hokkian terhadap perlawanan anti-Manchu dan juga simbol kekuatan dari perlindungan dewa dimasa perang. Bagaimana ada sebuah kekuatan yang menuntun mereka menyeberangi sungai dan tebu yang bertumbuh tinggi yang menyembunyikan rakyat dari kejaran musuh. 

Sumber: web.budaya-tionghoa.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER

‘Negeri Bertuah’ Kembali Diguncang Isu Corona, Jubir Satgas: Warga Kuala PDP, Bukan Positif Covid-19

STABAT - Realitasonline | Kabupaten Langkat yang kerap disebut dengan 'Negeri Bertuah' kembali diguncang isu corona karena salah satu warganya yang positif...

“Dicomblangin”, Harimau Sumatra di London Dibunuh Calon Pasangannya

LONDON - RealitasOnline | Seekor harimau Sumatra mati di Kebun Binatang London. Harimau betina bernama Melati itu dianiaya calon pasangannya, harimau jantan...

“Jemput Bola” Rekam E-KTP, Disdukcapil Pakpak Bharat Terima Penghargaan Gubsu

PAKPAK BHARAT - Realitasonline | Untuk memenuhi persyaratan bagi warga Pakpak Bharat yang sudah berusia 17 tahun atau yang telah kawin untuk...

“Mardua Holong” Tampil Apik Pada Perayaan HBA Kejari Simalungun

SIMALUNGUN - Realitasonline | Keluarga besar  Kejari Simalungun merayakan HBA (Hari Bhakti Adhyaksa) ke 59 penuh suka cita bertempat di Hotel Horizon...

BERITA TERBARU

Dandim Kibarkan Merah Putih Bersama Komunitas L-Bike Goes Merdeka di Puncak Tertinggi Kota Langsa

LANGSA - realitasonline.id | Komandan Kodim 0104/Aceh Timur, Letkol Czi Hasanul Arifin Siregar, bersama Komunitas L-Bike Gowes Merdeka, Kibarkan Bendera Merah Putih di Puncak...

Kapolres Tapsel: Menuju AKB, Mari Kita Patuhi Protokol Kesehatan

TAPANULI SELATAN - Realitasonline | Kapolres Tapanuli Selatan AKBP Roman Smaradhana Elhaj SH SIK MH mengimbau agar masyarakat untuk tetap mematuhi protokol...

3 Tahun Mengalami Kelumpuhan, Pujakesuma Sumut dan PMTI Serahkan Tali Asih dan Sembako

MEDAN - realitasonline.id | Ketua PMTI Sumut, Prof Hj Sri Sulistyawati SH MSi PhD menyerahkan bantuan tali asih dan sembako kepada keluarga Sri Puji...

Milad 24 Tahun UMN, Menyongsong Pendiri Al-Washliyah Jadi Pahlawan Nasional

MEDAN - realitasonline.id | Mensyukuri milad ke-24 Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) perguruan tinggi terkemuka di Sumut ini memoerungatinya dengan...