Jason Pasaribu, Pabrik Pengolahan Jagung di Garoga Nganggur

0

TARUTUNG – Realitasonline.id | Dalam satu tahun, mencapai Rp. 80 milyar uang berputar di wilayah Garoga-Tapanuli Utara dari transaksi penjualan Jagung.

Berbincang dengan Jason Pasaribu yang menggeluti pertanaman komoditi Jagung, menyebut bumi Garoga demikianlah tercipta dianugrahi tanah cukup subur.

Masyarakat yang bermukim pada 13 desa dikecamatan paling ujung Taput berwatas dengan Labuhanbatu, memanfaatkannya untuk menopang perekonomian keluarga. 

Selain bertanam padi, Jagung jadi komoditi unggulan masyarakat kata Jason yang mengaku memiliki  pertanian jagung diatas  hektaran yang diusahai secara rutin.

Jason Pasaribu melanggeng ke lembaga legislatif Taput pada pileg lalu dari partai Perindo, tidak menyurutkan nyali menggeluti usaha pertanaman jagung sebab komoditi ini telah menjadi primadona masyarakat yang tinggal di Garoga.

Secara pasti luasan lahan pertanaman jagung di Garoga tidak diketahui, namun tak terbantahkan penduduk (keluarga) yang tersebar di 13 desa diwilayah Garoga mayoritas bercocok tanaman jagung.

“Tidak berlebihan, estimasi saya mencapai delapan puluh milyar rupiah dalam setahun terjadi transaksi uang  di Garoga khusus dari komoditi jagung” sebut Jason di Tarutung usai dirinya mengikuti paripurna di kantor DPRD, Jumat (26/6).

Diakui, kultur tanah dibumi Garoga khusus pertanaman Jagung belum terlalu mengandalkan pestisida. Itu tadi tanah yang begitu subur dimanfaatkan dengan baik.Anugrah ini tidak disiasiakan masyarakat,katanya.

Menampung komoditi jagung Garoga datang dari luar kabupaten,mereka ada yang dari Siantar dan Medan. Bahkan kepada petani para toke ini sering mendahulukan uang kepetani tetapi tidak berperan sebagai tengkulak, aku Jason.

Sebab sebelum panen, petani harus menyiapkan bibit jagung tentu membutuhkan uang membeli bibit untuk ditanam kembali pada lahan tersebut.

Terang Jason Pasaribu, secara.umum petani menggunakan bibit jagung jenis “vioner 32” didatangkan dari Jawa Barat,dengan harga perbungkus ukuran 5 kg Rp. 525.000,-. Untuk luasan 1ha dibutuhkan bibit 2 bungkus,rata-rata hasilnya mencapai 2 ton per hektar dengan harga jual Rp. 3000,- per kg.

Jason Pasaribu belakangan mencoba membantu,bila petani butuh uang keperluan pembelian bibit,tidak berarti hasil panen wajib untuk dia.Bila harga diatas rata-rata petani bebas menjualnya kepada siapa saja, tidak dengan sistim ijon.

” Semata-mata meringankan warga untuk kelangsungan usaha pertanian jagung , kita warga satu kampung untuk saling membantu”,pungkasnya.

Nganggur

Yang paling krusial dipemikiran mantan guru honor ini, setelah melihat dengan fakta dilapangan, diwilayah Garoga sudah waktunya didirikan pabrik pengolahan jagung.

Jason mengingatkan kita kebelakang, tepatnya tahun 2009 lalu diresmikannya lokasi transmigrasi di Garoga tepatnya diwilayah Simpang Bolon.

Kementerian Sosial dan Transmigrasi ketika itu mendirikan pabrik pengolahan jagung. Sepengetahuan Jason Pasaribu, hingga sekarang sejak didirikan belum pernah beroperasi.

Sederhana saja, tak mungkin pihak kementerian Sosial dan Transmigrasi saat itu membangun pabrik pengolahan Jagung di Garoga tanpa ada potensi ketersediaan bahan baku, itu akan sangat konyol.

Pembangunan Pabrik Pengolahan Jagung erat kaitannya dengan peresmian lokasi transmigrasi di Simpang Bolon Garoga.

Lokasi transmigrasi di Garoga dihuni 50 KK penduduk lokal dan 50 KK dari luar, sebagian besar mereka hidup dari bercocok tanam Jagung, terang Jason.

“Artinya disitu, taklah mungkin, pemerintah melalui kementerian sosial dan transmigrasi mendirikan pabrik pengolahan jagung di Garoga dengan asal-asalan, dan biarlah dulu terpulish, mudah-mudahan instansi terkait tergugah,” tutup Jason Pasaribu. (MN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here