Rabu, November 30, 2022
BerandaHiburanGaya HidupKhawatir Punah, 2 Inspirator Muda Jadikan Budaya Batak Pilot Project

Khawatir Punah, 2 Inspirator Muda Jadikan Budaya Batak Pilot Project

TARUTUNG – realitasonline.id | Khawatir punah, dua inspirator yakni Frengki Talupan Sihombing dan Hasiando Tambunan mempunyai keinginan untuk melestarikan budaya Batak Toba melalui Musik Tradisional.

Kekhawatiran itu diungkapkan di workshop pengrajin alat musik tradisional Batak Slamat Harianja di Desa Pancur Napitu Kec. Siatasbarita Tapanuli Utara, Rabu (19/10) malam.

Keduanya sedang mengamati kepiawaian pemusik dalam memainkan alat musik tradisional Batak seperti Taganing, Hasapi dan Suling (Gendang, Kecapi, dan Seruling).

Kedua Inspirator muda ini serius dan larut menonton singkronisasi dari pemusik saat memainkan instrumen musik budaya tradisional Batak.

“Kami datang kesini kebetulan mau menjemput barang yang sudah kami pesan sebelumnya, barang itu adalah merupakan alat dan musik tradisional Batak Toba,” ujar Frengki kepada sejumlah wartawan.

Menurutnya musik tradisional merupakan unsur budaya yang penting dijaga dan dilestarikan sehingga tidak punah seiring perkembangan jaman teknologi.

Baca Juga:   Ratusan Warga Desa Helvetia Kecewa, Wisata Religi ke Sibolga Gagal

“Demikian juga halnya dengan musik Tradisional Batak Toba. Gondang misalnya, selain bagian dari instrumen musik juga dijadikan alat menyampaikan ucapan syukur pada Sang Pencipta, sehingga perlu dilestarikan,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan kalau musik tradisional Batak Toba saat ini dibeberapa daerah Tapanuli sudah menjadi lambang kebudayaan yang makin terlucuti oleh zaman era digitalisasi.

“Budaya Batak Toba dalam bidang seni musik di sekitaran Tapanuli semisal Kotamadya Sibolga sepertinya sudah hampir dilupakan atau dengan kata lain terpinggirkan. Padahal kota Sibolga dikenal dengan sebutan Negeri berbilang Kaum,” tuturnya.

Artinya di sini berbilang budaya, tetapi justru budaya Batak Toba di sana menurut pengamatan keduanya terkesan sudah mulai terlucuti.

“Makanya saya berusaha agar generasi muda bisa berperan mengembangkan seni budaya Batak Toba dimana pun,” ujar Frengki Talupan.

Baca Juga:   Polres Langkat Polda Sumut Bantu Pengobatan Gratis Masyarakat Terdampak Banjir di Desa Karang Anyar

Dia mengatakan, Walaupun tidak bisa bermain musik namun hanya penikmat seni, akan tetapi sebagai orang Batak, juga punya tanggung jawab untuk melestarikan dan mewariskan budaya Batak.

Sementara Hasiando Tambunan berpendapat tidak jauh dari Frengki Sihombing,dalam hal pelestarian Budaya Batak terutama alat alat musik tradisional Batak.

Pemuda usia 26 tahun Putera Sipirok Tapsel yang saat ini sedang menempuh Strata-II di USU berpendapat, melestarikan Budaya Batak bisa dilakukan melalui sekolah sekolah.

Dan sebagai pimpinan Yayasan Hasiando Tambunan yang bergerak di bidang sekolah model industri di Sipirok mengungkapkan pelestarian Budaya Batak nantinya akan menjadi pilot project yang dibiayai sendiri.

“Ke depannya pelestarian budaya seni Batak menjadi file project bagi yayasan, karena itu kita akan dirikan sanggar seni,” imbuh Hasindo diamini Frengki. (MN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

BERITA POPULER

BERITA TERBARU